Menelusuri Sejarah Suku Aneuk Jamee

Sebagai salah seorang Aneuk Jamee, saya berkewajiban untuk mencari tahu asal – usul dari sebuah suku yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Aceh Selatan dan di Kecamatan Kluet Selatan pada khususnya. Suku tersebut adalah Suku Aneuk Jamee. Banyak versi yang beredar dimasyarakat tentang muasal Suku Aneuk Jamee tersebut. Namun saya tidak ciut sedikitpun untuk terus mencari tahu karena asal dan usul wajib untuk dicari tahu agar kedepannya saya dan juga anda dapat memahami siapa itu anaeuk jamee.

Suku Aneuk Jamee adalah sebuah suku yang tersebar di sepanjang pesisir barat Nanggroe Aceh Darussalam. Dari segi bahasa, Aneuk Jamee diperkirakan masih merupakan dialek dari bahasa Minangkabau dan menurut cerita, mereka memang berasal dari Ranah Minang. Orang Aceh menyebut mereka sebagai Aneuk Jamee yang berarti tamu atau pendatang. bahasa yang digunakan bukan bahasa padang lagi tapi Bahasa Jamee.. mirip tapi tidak persis sama..tapi kalau di Daerah Kluet selatan, Tapaktuan, Blangpidie dan Susoh hampir semua masyarakat bisa berbahasa jamee dan Aceh…bahkan terkadang kadang berkomunikasi sudah bercampur dalam penggunaan bahasanya dengan bahasa Aceh.

Umumnya berkonsentrasi di kabupaten Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya dan sebagian kecil di sekitar Meulaboh, Aceh Barat. Namun sebagian besar diantaranya berdiam di sepanjang pesisir selatan Aceh, meliputi Aceh Selatan yakni Kecamatan Kluet Selatan hingga ke Aceh Barat Daya.

Konon ceritanya, ketika perang paderi berlangsung, para pejuang paderi mulai terjepit oleh serangan kolonial Belanda. Minangkabau pada saat itu adalah bagian dari kerajaan Aceh mengirim bantuan balatentara. ketika keadaan makin kritis rakyat terpaksa di eksoduskan, pada saat itu mulailah Rakyat Minangkabau bertebaran di pantai Barat Selatan Aceh. Bahasa Padang tetap digunakan dengan berasimilasi dengan bahasa Aceh jadilah bahasa “jamee”. tidak banyak perubahan cuma beberapa konsonan dan vokal dan sedikit dialeknya yang berubah.

Versi lain Seperti informasi yang saya dapatkan dari Firman Hadi seorang teman yang bekerja di bidang jurnalistik yang mengatakan :

Aneuk Jamee di Aceh Selatan menempati di daerah-daerah pesisir yang dekat dengan laut. mungkin jalur perpindahan nenek moyang dulu adalah dari jalur ini. dulu hidup dari berkebun dan melaut. seiring perkembangan zaman, seiring dengan kemajemukan, hidup terus berkembang. ada pengusaha, pedagang, pejabat, PNS, dan lain sebagainya. semuanya hidup dalam porsinya masing-masing.

Komunitas Aneuk Jamee tidak terkonsentrasi pada tempat tertentu, melainkan menyebar. misalnya dalam suatu kecamatan tidak semuanya disitu hanya oleh suku aneuk jamee saja. bercampur dengan aceh. paling hanya desa saja membedakan komunitasnya. namun di desa itu dapat juga kita jumpai orang berbicara dual bahasa, Aceh dan jamee/minang. mungkin karena ada hubungan famili yang berbahasa aceh di desa lain. kecuali kecamatan tapaktuan, di kecamatan kota ini, aslinya memang semuanya dari aneuk jamee, kecuali pendatang yang bekerja dan menetap di kota ini dari kecamatan lain.

Dari 18 kecamatan di Aceh Selatan, banyak diantaranya tidak ada komunitas aneuk jamee, Dominan suku aneuk jamee ada di beberapa kecamatan,
1. Blang pidie, (plural)
2. Susoh (plural)
3. tangan-tangan (plural)
4. Labuhan Haji (sangat Dominan Jamee)
5. Sama dua (sangat dominan Jamee)
6. Tapaktuan (100% Jamee aslinya, kecuali pendatang, pejabat dan pns yang menetap di kota ini)
7. Kandang (nama wilayah yang terdiri 1 Mukim), berada di kecamatan Kluet Selatan.

Komunitas Aneuk jamee hanya terpusat di mukim kandang, berada di wilayah pantai, selebihnya dari kecamatan ini adalah Aceh dan Kluet ke arah dekat dengan gunung. yang paling unik adalah di kecamatan ini, jika anda pergi dihari pekan, Uroe Pekan, atau hari pakan, dan sejenisnnya di daerah ini, anda kemungkinan akan menemukan komunikasi di pasar dengan tiga bahasa, Aceh, Jamee, dan Kluet (kluwat). mereka menggunakan bahasanya masing-masing dan mengerti apa yang diucapkan oleh lawan bicara.
“bahasa bukanlah halangan untuk hidup bersama”.
inilah kekayaan budaya daerah tanah rencong ini. Di wilayah kandang ini juga bersemayam dengan tenang pahlawan Aceh, T Cut Ali, tepatnya di pinggiran hilir Krueng Kluet. berada di kelurahan Suak Bakong, ibukota kecamatan Kluet Selatan.

Walaupun ada dari komunitas aneuk jamee itu tidak berbahasa aceh, itu berkaitan dengan komunitas dan pergaulan komunitas tempat tinggalnya dan pergaulannya. maka ada yang tidak bisa berbahasa aceh. juga sebaliknya. Seperti halnya tapaktuan, rata-rata penduduknya memang tidak bisa berbahasa aceh secara baik dan benar, dikarenakan komunitas di kota itu bahasa pergaulannya adalah bahasa jamee itu sendiri. Dominan penduduknya disini adalah jemee/minang.

Saudara-saudara kita disana yang berbahasa aceh dari kecamatan lain yang berbahasa aceh, terkadang lebih suka menggunakan bahasa jamee/minang, dengan alasan ingin mencoba variasi bahasanya dan menurut mereka bahasanya juga agak lebih mudah dimengerti dan mudah dipahami. karena mirip seperti bahasa indonesia. pejabat- pejabat disana yang bukan berbahasa jamee juga sering menggunakan bahasa jamee. dikecamatan lain, juga seperti itu. anak remaja tanggung dari jamee banyak juga yang tidak bisa berbahasa aceh, itu karena faktor pergaulannya yang belum luas dan faktor keluarga dan hubungan famili yang mungkin semunya menggunakan bahasa jamee/minang.

 

pakaian adat

Salah satu alasannya, mungkin menurut prakiraan saya, salah satu faktor inilah yang membuat ada warga jemee yang tidak bisa berbasa aceh.

Namun tidak bisa dipungkiri juga, banyak aneuk jamee fasih berbahasa Aceh. ini juga faktor plurarisme komunitas tempat berdiam, seperti hal nya di kecamatan kluet selatan, blang pidie sekitarnya. terkadang sehari-hari mereka menggunakan double bahasa. juga sebaliknya. bagiku, “salut” untuk mereka yang bisa seperti itu, bahasa mereka kaya. bahkan ada yang bisa menguasai tiga bahasa sekaligus, aceh, jamee dan Kluet (kluwat), seperti di daerah kluet selatan dan Kluet Utara. “Double salut” buat mereka.

Amatan saya di semua kecamatan hampir semuanya bisa berbahasa jamee dan bahasa aceh. namun kita sepakat dari dialek mereka, kita bisa menandakan bahasa ibu yang mereka gunakan dirumah, apakah bahasa aceh atau jamee.

Di Aceh Selatan sangat Plural. perbedaan asal tidak pernah diperbicarakan, dibincangkan atau menimbulkan konflik. Faktor perbedaan asal dan bahasa sangat tidak berpengaruh, semuanya sama saja. semuanya satu, sebagai kesatuan tempat berdiam, berkomunitas, bertempat tinggal, mencari nafkah, dan hidup bersama. perbedaan hanyalah sebagai sebuah bumbu-bumbu keindahan dalam kehidupan bersama.

Disana tidak pernah mempersoalkan “apakah bisa berbahasa ini atau itu”. semuanya berkomunikasi menurut bahasa yang mereka bisa gunakan. ketika orang yang berbahasa aceh tidak bisa berbahasa jemee, komunikasi yang dilakukan adalah dengan bahasa aceh, begitupun sebaliknya. tidak ada primordial bahasa, di aceh selatan.

 

pakaian adat

Kebudayaan Suku Aneuk Jamee adalah kombinasi dari budaya Aceh dan Budaya Minangkabau. Hal ini bisa kita liat dari cara dan perlengkapan adat pengantin wanita yang menambahkan semacam suntiang (mahkota ) dikepala yang merujuk kepada adat dari daerah Bukit Tinggi. Sementara pada pakaian adat pria tetap mengikuti adat aceh yang sama – sama telah kita ketahui.

 

 

 

 

Tradisi Hari Meugang ( sehari sebelum bulan Ramadhan )
Salah satu tradisi unik di hari Meugang ( hari magang ) ini adalah tradisi yang ada pada masyarakat suku bangsa Aneuk Jamee, khususnya di daerah Kluet Selatan ( kandang ) . Di daerah ini di hari Meugang dikenal adanya tradisi Mambantai dan Balamang. Kedua tradisi ini selalu dilaksanakan setiap tahun sebelum Ramadhan setiap generasi ke generasi.
Mambantai adalah tradisi penyembelihan hewan yang nantinya dimasak untuk keperluan Meugang. Kegiatan ini dilakukan oleh kaum laki-laki. Mereka berkumpul di sebidang tanah yang cukup luas. Prosesi ini dipimpin oleh seorang pawang (kadang dipimpin oleh Imam Chik mesjid atau Meunasah ) yang benar-benar memahami tata cara dan doa dalam penyembelihan dan dibantu oleh beberapa orang yang bertugas mengikat kaki dan merebahkan hewan yang akan disembelih dengan posisi menghadap kiblat. Sampai pada proses pemotongan daging dan siap dimasak oleh kaum perempuan.

Selain itu, dihari yang sama ada pula tradisi Balamang yang dilaksanakan oleh hampir semua keluarga disana. Balamang berarti tradisi memasak lemang. Uniknya Lemang tersebut dimasak bersama-sama oleh semua

malamang

perempuan yang ada dalam keluarga yang biasanya diikuti oleh tiga generasi; nenek, ibu dan anak perempuan. Mereka mendapat porsi tugas masing-masing sesuai usia. Nenek dianggap orang yang paling ahli dalam memasak lemang. Ia bertugas sebagai orang yang mengaduk semua bahan dengan takaran yang sesuai. Selain itu ia juga yang paling mengerti cara memasukkan beras kedalam bambu. Generasi yang lebih muda kebagian tugas mencari, memotong dan membersihkan bambu untuk memasak lemang. Suatu hal yang menjadi pantangan bahwa bambu (buluh) tidak boleh dilangkahi karena dapat menyebabkan beras ketan yang dimasak di dalam buluh tersebut alak akan keluar (menjulur) saat proses pemanggangan (dibakar di bara api) dalam posisi berdiri bersandar pada besi tungku. Biasanya bambu dicuci di sungai dengan menggunakan sabut kelapa untuk mengikis miang yang melekat pada bambu (buluh) agar tidak gatal lagi. Gerakan menggosok batang bambu juga ditentukan yaitu satu arah, tidak boleh bolak balik untuk mencegah miang tadi melekat kembali. Gerakannya juga tidak boleh terlalu keras agar tidak merusak buluh. Generasi kedua ini juga bertugas memeras santan dengan memisahkan santan kental dan encer. Sedangkan generasi ketiga adalah generasi yang sudah harus mempelajari cara memasak lemang. Ia harus memperhatikan dengan baik setiap prosesnya. Tugasnya lebih ringan, mulai dari mencari daun pisang, lalu memilih dan memotong daun muda yang tidak mudah robek untuk dimasukkan ke dalam buluh lemang. Ia juga harus mencuci beras hingga bersih.
Sementara cukup segini dulu bahasan tentang Aneuk Jamee. Sepertinya banyak lagi yang akan saya bahas tentang Aneuk Jamee dan bahasa.

** Insya allah akan ada kelanjutannya…. :)

About these ads

30 komentar

  1. bulbul · · Balas

    mantap bana ru,

    1. Trims saudara bulbul, :)
      sekedar untuak maingek adiak2 kito supayo asal usul suku kito diketahui dari mano barasal….

  2. Ogos Keruas · · Balas

    Tidak seperti di Aceh bagian timur dan utara, di Aceh bagian barat dan selatan bahasa Jamee (Minang) memang tidak asing terdengar. Pertahankan kekhasan itu.

    1. bung ogos, insya Allah budaya aneuk Jamee akan selalu dipertahankan. itulah salah satu tugas dari generasi muda yang secara kontinues menghidupkan budaya tersebut disetiap kesempatan yang ada walaupun hanya secara regional. trims sudah berkunjung…. :)

  3. sasakala · · Balas

    Mohon CP ya!!..menambah wawasan

    1. Silahkan sob, mohon cantumkan link blog ini ya…. :)

  4. [...] damai dan tenteram. Ada banyak suku yang mendiami gampong Suaq Bakong seperti suku aceh asli, suku aneuk jamee dan suku kluet dan semuanya sudah membaur erat dengan masyarakat sekitar sehingga banyak terlahir [...]

  5. Salam Takzim
    Nanti ini juga saya pinjam bang, maap
    Salam Takzim Batavusqu

    1. Nah kalau suku eneuk jamee adalah sukunya ibu saya bang, so, saya ini berada di aceh berdarah kluet dan jamee,,, hehehe
      repot deh gini…

  6. mana neh cerita lanjutnya??saya tertarik membaca artikel anda.

    1. belum sempat untuk mengumpulkan data ke kampung, maaf…

  7. poet · · Balas

    mantap….
    bisa nambah wawasan ne…
    izin copy y brother untuk bahan kuliah.
    thankz y
    di tunggu lanjutannya…

    1. Silahkan :)

  8. Viva · · Balas

    Mantap bana tulisan e. Sebagai separuh separuh sebagai separuh Jamee dan Aceh, saya sangat menyukai tulisan ini. Masih banyak orang yang bingung dengan mengenai identitas Suku Jamee. Tulisan ini membantu mencerahkan

  9. izinn copass ya .. wat bahann kuliahh heheheh

  10. oh nacak du tulisan e…. tuz an truz o tlisan e… agar lebiah laweh layi imfo e tntng jamee.. oke

    1. Oke :)

  11. iko baru mantap. Carito nyou?

  12. mantap tat cerita jieh? Hehe

  13. Saya mau tanya, apakah tradisi silat masih digunakan oleh anak jamee?

  14. Suku Aneuk Jamee, sukunya apa sama dengan yang di Minang, Caniago, Sikumbang, Malayu, Kampai, Panai, Jambak DLL.

  15. wah mantap bana bang.
    kebetulan saya lahir di suak bakung , ayah orang labuhan haji, mamak orang suak bakung jg tapi besar di bandung jadi gak bisa bahasa aceh.
    tapi kalo bahasa jamee saya ngerti walaupun gak terbiasa juga untuk ngomongnya.
    salam kenal bang.
    membantu sekali ini buat men-trace asal usul saya :)

  16. muchsin · · Balas

    iko baru gagah bana kabanyo?
    ambo urang labuhanhaji kiniko dibanda aceh.

  17. yuswan munir · · Balas

    bahasa taluak hampir samo dengan bahsa yang ada di thailand selatan, khusunya yala, pathani dan naratiwat. Oleh karena itu, ada kemungkinan bahwa suku di aceh selatan merupakan suku melayu tersendiri yang bukan dari minang. Perlu kajian yeng lebih dalam. Dan namanya lebih baik diganti jadi suku melayu aceh, bukan anuek jamee.

    1. Roni Yanto · · Balas

      kenapa pak yuswan…kurang berkenan kalau aneuk jamee di anggap bagian dari minangkabau ya…..

  18. makanan khas nya apa kakak ?

  19. Apakah suku Aneuk Jamee sudah menjadi suku tersendiri atau masih bagian dari suku Minang? Bagaimana orang suku Aneuk Jamee menganggap dirinya?

  20. khairida iskandar · · Balas

    saya asli padang dan pernah tinggal di aceh 1996-2001.. dari logat bahasa jamee yang saya dengar, logatnya seperti logat daerah lintau dan payakumbuah di sumatra barat.

  21. nice post :D
    jadi tahu deh sejarah suku ibu saya :D

  22. ERNA FITRIANA · · Balas

    ancak bana infonyo, walaupun kini ambo tingga di jawa tapi jiwa bantang tetap aneuk jamee sejati…….

Bagaimana menurut anda... :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: