Inilah Rumus Mencaci

Ada sebuah catatan menarik dari Lara Ahmad yang saya baca ketika tadi pagi iseng membuka lembaran demi lembaran surat kabar Serambi Indonesia. Isi catatan tersebut menyangkut dengan kebiasaan kita bermasyarakat. Mungkin ada diantara sahabat yang sudah membacanya dan ada yang belum. Kan gak ada salahnya jika kita kembali membaca kisah ini dan semoga mendapat sesuatu yang berharga untuk diaplikasikan dalam bermasyarakat. Seperti kata pepatah ” Lancar kaji karena diulang…” :D

Syahdan di sebuah negeri yang pada mulanya damai dan sejahtera, mendadak bertolak menjadi anarkis. Kerusuhan, kekerasan, tawuran, dan pengrusakan menjadi menu mencekam tiap harinya.  Siapa pun pasti tak menyangka, negeri yang dihuni oleh orang-orang berbudi pekerti baik dan menjujung tinggi nilai-nilai moral mendadak berubah drastis. Tak ada pula yang menyangka, negeri yang terkenal dengan keramahan penduduknya kini ditelikung prahara dan huru-hara.

Usut punya usut, kekerasan itu bersumber dari sebuah biji. Entah darimana asal biji itu, persebarannya sangat cepat, pertumbuhannya begitu melesat. Bak virus yang menular, biji itu terus tumbuh, bercabang, berkembiak biak lalu menjangkiti orang-orang.

Aku mencaci. Kau balik mencaci. Kita saling mencaci. Satu caci. Dua caci. Banyak cacian. Tak terhitung berapa banyak cacian yang telah terlontar, kita terus mencaci hingga hati ini selayak kurcaci. Oh, oh, tidak! Kita tak lagi punya hati. Hati yang ada pada tubuh kita telah mati karena kita saling menyakiti, menyikut, dan melukai. Membunuh dan memangsa. Kita tak ubahnya seperti binatang. “Bukan,” elak binatang. Lihat! Binatang pun tak mau disamakan dengan kita. Katanya kita lebih liar dari mereka.

Dia mencaci. Kau balik mencaci. Kalian saling mencaci. Satu caci. Dua caci. Banyak cacian. Tak terhitung berapa banyak cacian yang telah terlontar, kalian terus mencaci hingga kulihat hati kalian mengekerut bak daun kusut. Layu, menguning, lalu terbang di bawa angin.   “Pemimpin tak becus!” disahut “Rakyat merepotkan!”
“Bos kejam!” dijawab    “Bawahan tak berguna!”     “Guru galak,” dibalas “Murid nakal!”

“Perempuan binal!” ditangkis “Laki-laki liar!” Semua berperang kata. Semua melempar caci. Hingga tawur kalimat caci. Emosi menjadi-jadi dan akhirnya main fisik. Tak ada lagi keamanan. Suasana mencekam, kelam, buram menjadi santapan makan malam. Darah-darah bertumpahan. Bak keran air, terus mengalir tanpa kesudahan. Semua itu hanya karena sebiji caci yang sebenarnya tak jelas darimana asalnya. Biji misterius itu oleh beberapa orang yang dibawa, disimpan, dimasukkan ke kantong hati kemudian tanpa tersadari biji itu bertunas, berkecambah, tumbuh, dan berkembang biak. Subur.

Para ilmuwan dari berbagai bidang mulai meneliti biji caci. Mereka penasaran, mereka harus menemukan cara bagaimana mengendalikan persebaran biji caci yang makin membuat resah.

Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan mereka meneliti namun tak ada yang menemukan hasil. Para ilmuwan tertunduk lemas. Mata berkerudung merah. Raga meggendong lelah.

“Ah, mengapa tak ada hasil.”

“Dasar bodoh!”

“Kau juga tolol!”

“Diam! Kalian bodoh semua!’

“Memangnya kau sendiri tak bodoh?”

“Daripada saling mencaci lebih baik kerja”

“Ya, ya, ya ayo kerja lagi.” Semua ilmuwan kembali serius bekerja.

“Berhenti….!”

“Ada apa?”

“Iya kau menganggu saja!”

“Aku tahu bagaimana menghentikan kinerja caci!” seorang seorang ilmuwan bangga. “Benarkah? Bagiamana? Bagaimana?” sahut ilmuwan-ilmuwan lain.

“Bekerja,” jawab ilmuwan, mantap. “Bekerja?”

“Ya bukankah sewaktu kita kerja tadi tak ada caci yang terlontar dari mulut kita? Lalu, ketika kita tak lagi bekerja, kita mulai saling mencaci lagi.”

“Hmmm … cukup masuk akal!” Mereka mengangguk-angguk. Lalu, mereka pun bekerja untuk membuktikan apakah kerja efektif menahan caci..”

“Berhenti! Bekerja memang bisa menghentikan caci, tapi itu bukan solusi. Bagaimana mungkin kita terus bekerja?”

“Lalu?”

Semua menggeleng. Semuanya terdiam. Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan mereka berkutat mencari jawaban. Dan sampailah mereka pada sebuah kesimpulan. Dari kesimpulan itu tersusunlah beberapa rumus caci:

Aku mencaci. Kau diam. Cacian karam.
Kau mencaci. Aku diam. Cacian padam.
Kalian mencaci. Mereka diam. Cacian tenggelam.

Semoga para sahabat bisa menyimpulkan sendiri makna yang terkandung didalam cerita ini, saya yakin para sahabat sudah sangat cerdik dan cerdas untuk mendapatkannya. :)

saleum

Perihal dee
Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak. Semoga saya bisa seperti itu...

39 Tanggapan untuk Inilah Rumus Mencaci

  1. Mabruri Sirampog mengatakan:

    salam bang…
    Hmm,,,, jika salah seorang menjadi api, hendaknya di sisi lain kita menjadi airnya..
    api diadu api, akan makin membara…. mungkin seperti itu bang… :D

  2. Tiara Putri mengatakan:

    heeee :D jadi harus ada yang mengalah ya bukan malah membalasnya, betul gg tuh om :)

  3. alamendah mengatakan:

    Intinya jangan pernah mendengarkan apalagi membalas cacian. Anggap saja sebagai bau kentut yang pasti akan sirna dengan sendirinya.

  4. Dhenok Habibie mengatakan:

    dari yang pernah saya baca bang, mulut kita adalah ekspresi dari diri kita.. dan orang pun akan menilai kita dari apa yang kita ucapkan, jadi kalau ingin dinilai baik berbicaralah yang baik pula.. hmm, sama gk yaa bang sama maksud postingan abang?? :D

  5. sayyidahali mengatakan:

    “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (Al Hujurat: 11)

    begitu mudahnya ya kita mencaki orang lain, padahal kita ga tau siapa yang lebih mulia…

  6. Lowongan Kerja mengatakan:

    artikel yang aneh . wkwkwk

  7. Widya Wicaksana mengatakan:

    Betul, mulutmu harimau mu. Kendalikan mulutmu atau kau akan dimakan harimau :)

  8. Asop mengatakan:

    Luar biasa. Saya suka sekali ini. :cool:

    Awalnya saya baca serius, sempat tersenyum, hingga akhirnya saya berpikir di akhir. :cry:

  9. irfanandi mengatakan:

    Tulisan yg bagus.. Memang sepatutnya lisan kita dijaga. Tak perlu banyak bicara, jika tak ada manfaatnya. Apalagi mencaci maki.
    Salam,, :-)

  10. LIdya mengatakan:

    bawa air supaya dingin :)

  11. riez mengatakan:

    I love this…bang milano…Mari kita sama-sama terapkan PLUR (Peace Love Unity Respect

  12. Inayatul Lutfi mengatakan:

    Sebuah tulisan yang memiliki makna yang dalam. Cacian yang sepele pun ternyata bisa merusak segalanya. Merusak diri sendiri dan orang lain, tapi masalah caci memaki itu sulit untuk dihindari dari kehidupan kita,,,
    Setelah meresapi tulisan tersebut, baru kusadari ternyata ngomong itu gak gampang dan harus mikir dua kali deh kalau mau mengungkapkan sesuatu pada orang lain,,
    Pokoknya tulisan pak milano assoooyy beud deh,,,

  13. irfan handi mengatakan:

    Mari kita sama-sama belajar untuk mengendalikan ego.
    PEACE!

  14. Abed Saragih mengatakan:

    labkomputerku berubah menjadi http://diketik.wordpress.com gan
    kunjungan dan komentar balik gan

  15. rusydi mengatakan:

    guru kencing berdiri, murid kencing berlari. pasti ada yg dicontohinya

  16. Aulia mengatakan:

    caci, memang paling mudah untuk di cuci
    cuci caci dengan kata-kata santun untuk hidup bisa lebih berarti :)

    saleum aneuk nanggroe :D

  17. MENONE mengatakan:

    klo panas jangan dilawan dengan panas ntar hasilnya akan makin panas mbetul sob?

    salam persahabatan selalu dr MENONE

  18. Darmanto Muat mengatakan:

    Luar biasa..
    Memberi nasihat tak harus “tonjok hidung”..

    tetap menginspirasi mas..!!

    salam,

  19. Anugrha13 mengatakan:

    slow but sure ya???eh ga ding kan rosullallah juga ketika di caci dimaki dihina dan dicerca tidak dibalas dengan keburukan pula yaaaa

  20. Abed Saragih mengatakan:

    Kunjungan lagi ke blog ini… hehehe :)
    ditunggu kunjungan dan komentar baliknya :)
    salam persahabatan :)

  21. Nchie mengatakan:

    dari pada mencaci di caci..
    lebih aman mencuci..

  22. hajarabis mengatakan:

    hanya ingin mengikuti postingan agan saja
    salam kenal yya
    http://www.hajarabis.com

  23. The-Netwerk mengatakan:

    hanya ingin mengikuti postingan agan .
    postingan yang menarik dan menambah pengetahuan .
    nice gan .

    sempatkan mampir ke website kami
    http://www.the-netwerk.com

  24. Outbound Malang mengatakan:

    hehe..salah satu harus ada yang mengalah mah..salam kenal

  25. Abed Saragih mengatakan:

    cuma mengabarkan bahwa saya udah pindah ke rumah baru mas bro… :)

    Sekalian link saya diganti ya menjadi disave,,link mas bro juga udah saya pasang :)

    Ditunggu kunjungan dan komentarnya :)

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s