makam-tuan-tapa

makam-tuan-tapa

Satu komentar

  1. Darul Qutni Ch · · Balas

    Dibalik Nama Tapaktuan

    PDFPrintE-mail

    Written by Administrator Friday, 16 September 2011 14:34

    [Makam tuan Tapa]

    Makam tuan Tapa
    Keunoe hai rakan ta piyoh siat..
    Ta duek meusapat bak jambo hatta
    Nyoe kon hukom nyoe kon adat..
    Mungken tabiat jiet keu biasa…

    Demikian bait pertama lagu Aceh Selatan. Jambo Hatta merupakan sebuah pondok kecil dimana wakil presiden Republik Indonesia pertama pernah singgah untuk istirahat dalam perjalanannya berkeliling Aceh pada tahun 1953. Jambo ini berada di atas bukit di desa Lhok Reukam, kecamatan Tapak tuan.

    Aceh Selatan adalah Sebuah Kabupaten di Aceh yang sebelah timurnya berbatas dengan Kabupaten Aceh Singkil, barat yang berbatas dengan kabupaten Aceh Barat Daya, utara berbatas dengan kabupaten Aceh Singkil, dan Selatan berbatas dengan kabupaten Aceh Tenggara.

    Daerah yang khas oleh kue dan sirup pala ini memiliki banyak tempat Wisata. Diantaranya, pantai batu berlayar (Samadua), Goa Batee meucanang (Labuhan Haji), Makam Tuan Tapa (Tapak Tuan), goa Kalam (Tapak Tuan) Makam Teuku Raja Angkasah (Bakongan).

    Beberapa tempat wisata ini memiliki legenda tersendiri seperti Batu berlayar, batee meucanang dan yang paling sering disebut-sebut orang adalah Legenda Tapak Tuan.

    Tak hanya sekedar legenda, tapi terdapat pula bukti-bukti dari legenda tersebut. Contohnya Makam, tapak kaki, kopiah serta tongkat Tuan Tapa. Selain itu, juga masih ada sisa hati dan darah Naga yang diceritakan menjadi batu dan sekarang dikenal sebagai batu hitam dan batu merah.

    Legenda tersebut pernah ditulis oleh seorang guru di salah satu sekolah dasar di Tapak Tuan, Darul Qutni Ch. Buku yang beliau tulis tersebut berhasil menjadi juara III tingkat Nasional pada sayembara penulisan buku bacaan fiksi yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan tahun 1996.

    Menurut buku yang ditulis Darul Qutni, legenda Tapak Tuan tersebut adalah sebagai berikut. Konon, pada zaman dahulu kala hiduplah seorang petapa bertubuh besar dan tinggi di tepi teluk samudera Indonesia bagian barat. Pada suatu hari ia bertemu dengan sepasang naga yang di usir dari kerajaan China karena mereka tidak memiliki anak. Lalu mereka meminta izin kepada tuan tapa untuk tinggal sementara waktu di daerah tersebut. Setelah memberikan beberapa persyaratan, dan disetujui kedua naga, tuan pun mempersilahkan. Keesokan harinya, mereka pergi mencari makan. Mereka berenang secara beriiringan. Dalam perjalanan itu, mereka menemukan hal-hal menarik. Air yang dipenuhi buah pinang yang jatuh, maka mereka memberi nama tempat itu air pinang, bukit yang melayang di udara, dinamakan terbangan, pantai yang dihuni beribu ekor gajah, dinamakan teupian gajah, pantai yang ditumbuhi pohon kelapa, dinamakan kualaba-u (dalam bahasa Aceh) dan daerah-daerah lainnya.

    Suatu ketika, kedua naga tersebut bermimpi melihat seorang bayi di dalam keranjang rotan sedang terombang-ambing di tengah lautan. Esoknya, mereka menyampaikan perihal mimpi itu kepada Tuan Tapa. Tuan berkata bahwa mimpi itu akan menjadi kenyataan. Betapa senang hati kedua naga tersebut. Mereka berpikir bahwa, walau mereka tak punya anak sendiri, anak manusia pun tak masalah.

    Benar saja, dalam perjalanan, mereka menemukan bayi tersebut dan merawatnya hingga bayi itu tumbuh menjadi seorang putri yang cantik. Mereka begitu bahagia. Sesekali naga mengajak sang putri berjalan-jalan melihat pemandangan alam sekitar. Naga jantan membuatkan tempat pemandian untuk putri. Tempat itu sekarang dikenal dengan tingkat tujuh.

    Diam-diam, sang putri menyimpan pertanyaan mengapa ia berbeda dengan kedua orang tuanya. Lalu ia bertanya kepada Tuan Tapa. Tuan Tapa menjawab bahwa dia adalah seorang puteri kerajaan. Sang puteri terapung-apung di tengah lautan karena kapal rombongan orang tuanya diterjang badai. Maka naga itu menyelamatkan dan merawatnya sampai sekarang ini. Tuan menambahkan bahwa tak lama lagi orang tuanya yang asli akan menjemputnya.

    Saat raja dan isterinya datang menjemput sang puteri, naga tidak mengizinkannya. Mereka bersikeras tidak akan menyerahkan sang puteri kepada orang tua kandungnya. Saat itu, terjadilah pertarungan antara naga jantan dan Tuan Tapa. Naga jantan terkena libasan tongkat Tuan hingga tubuhnya hancur berkeping-keping. Naga betina berhasil melarikan diri kembali ke negeri China.

    Konon, hati dan tubuh naga yang hancur berkeping-keping kini menjadi batu yakni batu Itam. Darah sang naga menjadi batu merah, dan naga betina yang lari, membelah sebuah pulau di daerah bakongan sehingga bernama Pulau Dua.

    Demikianlah Legenda Tapaktuan yang diyakini sebagai sejarah asal mula nama Tapaktuan yakni tapak dari Tuan. Tapak tersebut berada di kaki gunung lampu arah ke laut. Tapak yang berukuran kira-kira 2 meter itu terdapat di atas batu karang. Bila air laut sedang surut akan terlihat tonggak batu yang disebut tongkat Tuan Tapa. Lima kilometer ke tengah laut, terdapat pula peci Tuan Tapa. Satu kilometer dari kaki Gunung Lampu, terdapat makam Tuan Tapa dengan ukuran 4×15 meter.

    Di Tapaktuan, juga bisa ditemukan beberapa patung naga, diantaranya di dekat pendopo Bupati Aceh Selatan, di taman putroe bungsu, dan di dekat dinas kesehatan Tapaktuan.

    -Nela Fitri

Bagaimana menurut anda... :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: