Sebuah Cerita di Persimpangan

Saleum, :)

Hari belum beranjak siang, akan tetapi untaian kata – kata tak enak sudah meluncur dari mulut salah seorang ibu yang merasa waktunya dirugikan oleh situkang becak karena becak yang ditumpanginya bocor ditengah jalan. Sesekali kuperhatikan bagaimana sabarnya situkang becak dalam menghadapi omelan dari ibu itu yang baru beberapa menit menjadi penumpangnya sambil terus mengganti ban belakang becaknya dengan ban serap. Tukang becak itu sebenarnya gondok alias sebel juga diomelin ketika sedang berupaya mengganti ban, bukan kah ban becaknya bocor disaat sedang berjalan dan tidak pula disengaja,begitu pikirnya. Akan tetapi demi kebaikan dan sebagai rasa tanggung jawabnya pada penumpang, dia berusaha tidak mau meladeni gerutuan ibu itu dengan perbuatan yang sama. Dengan bergegas dia mengganti ban becaknya agar perjalanan bisa segera dilanjutkan. Dan begitulah, akhirnya dengan penuh kesabaran, pekerjaannya itu selesai dan dengan senyum ramah lalu mempersilahkan ibu tadi naik kembali. Ah… betapa baiknya pekerti tukang becak itu dalam melayani penumpangnya yang emosional.

Lalu perhatianku beralih pada sipenumpang becak itu yang sekarang duduk dengan muka merengut diatas becak. Seorang wanita setengah tua dengan dandanan yang lumayan mentereng dan sepertinya akan menghadiri sebuah hajatan penting. Dia masih saja merengut ketika becak sudah berjalan dan berlalu dari pandanganku yang saat itu sedang ngopi disebuah warung kopi yang berada persis di dekat tekape. Salah seorang temanku nyelutuk “ Tuh liat, sipenumpang yang gak pengertian….”. Aku menanggapinya dengan senyum karena masih teringat akan kesabaran situkang becak tadi.

Sahabatku, Ada banyak pembelajaran yang bisa kita dapatkan lewat kejadian – kejadian disekitar kita andai kita mau membuka hati nurani. Biarpun tampak kecil dan biasa saja, namun sebuah cerita di persimpangan ini punya hikmah tersendiri untuk kita telaah menjadi bekal kita bersosialisasi. Belajarlah menyebarkan energi positif dan jangan menyalahkan keadaan karena tidak akan membuat keadaan jadi lebih baik, bahkan akan menjadikan kita lebih stres dan frustrasi. Dengan kesabaran maka semua masalah akan teratasi dengan baik.

Saleum

Inilah Rumus Mencaci

Ada sebuah catatan menarik dari Lara Ahmad yang saya baca ketika tadi pagi iseng membuka lembaran demi lembaran surat kabar Serambi Indonesia. Isi catatan tersebut menyangkut dengan kebiasaan kita bermasyarakat. Mungkin ada diantara sahabat yang sudah membacanya dan ada yang belum. Kan gak ada salahnya jika kita kembali membaca kisah ini dan semoga mendapat sesuatu yang berharga untuk diaplikasikan dalam bermasyarakat. Seperti kata pepatah ” Lancar kaji karena diulang…” :D

Syahdan di sebuah negeri yang pada mulanya damai dan sejahtera, mendadak bertolak menjadi anarkis. Kerusuhan, kekerasan, tawuran, dan pengrusakan menjadi menu mencekam tiap harinya.  Siapa pun pasti tak menyangka, negeri yang dihuni oleh orang-orang berbudi pekerti baik dan menjujung tinggi nilai-nilai moral mendadak berubah drastis. Tak ada pula yang menyangka, negeri yang terkenal dengan keramahan penduduknya kini ditelikung prahara dan huru-hara.

Usut punya usut, kekerasan itu bersumber dari sebuah biji. Entah darimana asal biji itu, persebarannya sangat cepat, pertumbuhannya begitu melesat. Bak virus yang menular, biji itu terus tumbuh, bercabang, berkembiak biak lalu menjangkiti orang-orang.

Aku mencaci. Kau balik mencaci. Kita saling mencaci. Satu caci. Dua caci. Banyak cacian. Tak terhitung berapa banyak cacian yang telah terlontar, kita terus mencaci hingga hati ini selayak kurcaci. Oh, oh, tidak! Kita tak lagi punya hati. Hati yang ada pada tubuh kita telah mati karena kita saling menyakiti, menyikut, dan melukai. Membunuh dan memangsa. Kita tak ubahnya seperti binatang. “Bukan,” elak binatang. Lihat! Binatang pun tak mau disamakan dengan kita. Katanya kita lebih liar dari mereka.

Dia mencaci. Kau balik mencaci. Kalian saling mencaci. Satu caci. Dua caci. Banyak cacian. Tak terhitung berapa banyak cacian yang telah terlontar, kalian terus mencaci hingga kulihat hati kalian mengekerut bak daun kusut. Layu, menguning, lalu terbang di bawa angin.   “Pemimpin tak becus!” disahut “Rakyat merepotkan!”
“Bos kejam!” dijawab    “Bawahan tak berguna!”     “Guru galak,” dibalas “Murid nakal!”

“Perempuan binal!” ditangkis “Laki-laki liar!” Semua berperang kata. Semua melempar caci. Hingga tawur kalimat caci. Emosi menjadi-jadi dan akhirnya main fisik. Tak ada lagi keamanan. Suasana mencekam, kelam, buram menjadi santapan makan malam. Darah-darah bertumpahan. Bak keran air, terus mengalir tanpa kesudahan. Semua itu hanya karena sebiji caci yang sebenarnya tak jelas darimana asalnya. Biji misterius itu oleh beberapa orang yang dibawa, disimpan, dimasukkan ke kantong hati kemudian tanpa tersadari biji itu bertunas, berkecambah, tumbuh, dan berkembang biak. Subur.

Para ilmuwan dari berbagai bidang mulai meneliti biji caci. Mereka penasaran, mereka harus menemukan cara bagaimana mengendalikan persebaran biji caci yang makin membuat resah.

Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbulan-bulan mereka meneliti namun tak ada yang menemukan hasil. Para ilmuwan tertunduk lemas. Mata berkerudung merah. Raga meggendong lelah.

“Ah, mengapa tak ada hasil.”

“Dasar bodoh!”

“Kau juga tolol!”

“Diam! Kalian bodoh semua!’

“Memangnya kau sendiri tak bodoh?”

“Daripada saling mencaci lebih baik kerja”

“Ya, ya, ya ayo kerja lagi.” Semua ilmuwan kembali serius bekerja.

“Berhenti….!”

“Ada apa?” Baca tulisan ini lebih lanjut

Bijaklah…

Hidup tanpa masalah merupakan sesuatu yang tidak normal

Sahabatku, hidup membutuhkan banyak hal. Semakin banyak kebutuhan, semakin banyak pula yang dipikirkan. Imbasnya, resiko juga menumpuk. Ujung-ujungnya masalah muncul. Ops… don’t worry sahabat, kebijaksanaan dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Adalah bijaksana jika tidak mempersoalkan bagaimana masalah itu terjadi, tapi memikirkan bagaimana masalah tersebut dapat diselesaikan. Betul gak ya…?? :)

Tentu semua kita sudah mengerti tentang itu, tapi mengerti saja tidak cukup. Mengerti hanya syarat minimal. Setidaknya mesti dilaksanakan agar bisa dimengerti dengan penuh kesadaran. Selamat berusaha…..

Saleum

Hubungan Baik

Saleum sahabat, Semoga para sahabat senantiasa sehat wal’afiat dan tetap semangat menjalani kehidupan yang keras ini. Aamiin. :) Ohya sob, saya baru saja pulang dari Warung Blogger, setelah sekian jam ngobrol ama beberapa sahabat yang hadir disana. sangat mengasyikkan nongkrong disitu, sampai – sampai saya lupa bahwa saya belum update blog.  hehehe…

Okaylah sahabat, hari ini saya ingin berbagi sedikit tentang bagaimana mewujudkan Hubungan Baik sesama manusia. Karena saya melihat, mendengar dan merasakan bahwa dijaman kuda makan raja sekarang ini, kalimat Membina Hubungan Baik sesama manusia hanya sekedar slogan belaka. Coba sahabat saksikan dimedia massa, begitu banyak kepalsuan yang mewarnai hubungan baik dalam kehidupan seseorang atau kelompok. Senyum dan muka ramah terhias diwajah ketika bertemu muka akan tetapi setelah saling membelakangi, mulai deh saling menjatuhkan dengan gaya masing – masing.

Sahabatku, Membina hubungan baik dengan sesama itu sangat penting dan sebaiknya dimulai dari bagaimana kita memulai komunikasi dan tetap menjaga komunikasi agar berjalan dengan baik, tanpa harus ada perselisihan yang dapat menjadi jurang pemisah hubungan kita dengan orang lain. Agar komunikasi itu dapat berjalan dengan baik,  kita sih harus memahami sifat orang lain pada umumnya. Selain itu, kita harus belajar mendengarkan orang lain berbicara dan membuang rasa egois kita (ingin menang sendiri) jauh-jauh. Kemudian jika kita diharuskan untuk mengkritik orang lain, maka usahakan jangan sampai kritikan itu merusak hubungan kita dengan orang lain. Begitu saja kok repot :)

Gitu saja dulu celoteh ringan dari saya dihari minggu ini, dengan harapan ada manfaatnya buat kita sebagai bekal untuk memulai sebuah hubungan baik dengan sesama manusia. Selamat Berhari Minggu sob,..

Saleum