Hanya Waktu yang mengerti Cinta

Pada zaman dahulu sebuah pulau terhempas nun jauh di sana. Konon berbagai perasaan memutuskan untuk menetap di pulau terasing di tengah lautan itu. Ada KEBAHAGIAAN, ada KESEDIHAN, dan ada pula perasaan CINTA. Tidak ketinggalan, perasaan-perasaan lain pun mulai berdatangan ke pulau itu.

Kehidupan harian mereka berjalan normal sampai suatu hari mereka mendengar kabar, bahwa pulau yang sudah terlanjur mereka cintai itu segera akan tenggelam. Menurut perkiraan para ahli, gempa bumi disertai tsunami hebat akan melanda pulau itu dan menenggelamkannya. Karena itu seluruh penghuni pulau diminta segera meninggalkan tempat itu.

Demikianlah, kedamaian mulai terusik. Tampak setiap perasaan sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk segera meninggalkan pulau itu. Ada yang tampak memperbaiki perahu mereka, tetapi ada juga yang membuat perahu baru karena mereka memang belum memiliki satu perahu pun.

Ketika penghuni pulau lain tampak sibuk mempersiapkan penyelamatan mereka, CINTA tampak tenang-tenang saja. Dan ketika perasaan-perasaan lain bergegas meninggalkan pulau itu bersama keuarga mereka, CINTA memutuskan untuk tetap berada di sana. ”Aku ingin bertahan di sini dan berupaya menyelamatkan pulau ini sampai titik darah penghabisan,” tekad CINTA dalam hatinya.

Ternyata benar juga prediksi para ahli itu. Di hari kelima belas, bulan kesepuluh, tahun kedua puluh sejak pulau itu didiami, sebuah gempa bumi disertai tsunami memecah keheningan malam. Terjadi goncangan amat hebat. Air mulai bergerak naik dan pulau itu pun perlahan-lahan tenggelam. Menyadari dirinya dalam bahaya, CINTA pun mulai berteriak meminta pertolongan. Mengingat penghuni pulau lainnya telah meninggalkan pulau itu, teriakan CINTA tampaknya sia-sia. Apakah CINTA akan mati tenggelam bersama pulau yang terlanjur dicintainya itu?

Tunggu dulu. Ketika gelombang tsunami mulai reda dan cinta masih bertahan hidup di sebatang pohon yang kebetulan belum ikut tenggelam, tiba-tiba ada sebuah kapal besar berlayar mendekat. ”Wah, beruntunglah aku,” gumam CINTA dalam hatinya. Aku akan segera meminta pertolongan dari kapal itu.

Ternyata kapal itu adalah milik seseorang bernama KEKAYAAN. Tampak kapal itu sangat besar dan mewah. Sambil melambaikan tangan, CINTA berteriak, katanya, ”Hei KEKAYAAN, tolonglah aku. Izinkan saya menumpang dikapalmu!”

Sambil berdiri di buritan kapal, KEKAYAAN menjawab, “Tidak, saya tidak bisa… . Ada banyak sekali emas dan perak dalam kapal ini. Maaf, tidak ada tempat buat kamu.” KEKAYAAN pun berlalu.

Tidak lama berselang lewatlah kapal lainnya di hadapan CINTA. Kali ini kapal tersebut mengangkut seorang penumpang, pemilik kapal itu sendiri. Namanya ANGKUH. Dia tampak mewah dalam kebesaran pakaiannya. Melihat si Angkuh lewat, Cinta pun berteriak, katanya, ”Hei ANGKUH, bantu aku, dong!”

“Maaf Cinta, aku tidak bisa bantu kamu. Badan kamu dalam keadaan basah semuanya sehingga kamu bisa merusak perahu saya,“ jawab si Angkuh.

CINTA tidak patah semangat karena berharap ada kapal lain yang akan membantu dia. Benar juga. Tidak lama kemudian KESEDIHAN berlayar melewati pulai yang dihuni CINTA. Mengingat kesempatannya tidak banyak lagi, CINTA pun berteriak sekeras-kerasnya, katanya, ”KESEDIHAN, tolong bantu aku, dong!”

“Oh … Cinta, saya sangat sedih karena tidak bisa menolong kamu. Saat ini saya ingin menjadi diriku sendiri dan tidak mau diganggu oleh orang lain,” jawab KESEDIHAN.

KEBAHAGIAAN juga melewati pulau itu, tetapi tidak mendengar sedikit pun suara teriakan CINTA karena dia sedang terhanyut dan tenggelam dalam kebahagiaannya sendiri.

Kali ini CINTA benar-benar putus harapan. Hari sudah mulai sore dan sudah agak lama tidak ada lagi perahu yang berlayar dekat pulau itu. ”Mungkin inilah takdirku. Aku harus menerima kenyataan bahwa kematianku tidak akan lama lagi datang. Biarlah aku mati saja di pulai ini,” kata CINTA dalam hatinya.

Dalam keadaan setengah melamun, tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan. Suara itu jelas sekali memanggil nama CINTA. “Kemarilah CINTA, kemarilah. Saya akan membawamu pergi.”

”Ada suara,” kata CINTA dalam hatinya. Suara dari seorang yang sudah lanjut usia. Menyadari bahwa dia tidak sedang bermimpi, CINTA pun melonjak kegirangan. ”Wah, keberuntungan akhirnya menghampiriku,” teriak si CINTA.

Demikianlah CINTA pun menumpang di perahu PAK TUA itu. Perlahan mereka meninggalkan pulau impian CINTA menuju sebuah daratan yang aman. Anehnya, terlanjur senang dan kegirangan karena terselamatkan dari bahaya bencana, CINTA lupa menanyakan nama PAK TUA itu. Demikianlah, ketika CINTA dan dan PAK TUA itu merapatkan perahu mereka di pantai dan menginjakkan kaki di daratan yang aman, CINTA dan PAK TUA melanjutkan perjalanan mereka ke arah yang berbeda. Beberapa saat kemudian CINTA baru menyadari bahwa dirinya lupa menanyakan nama dan alamat PAK TUA itu. Tetapi apalah daya, PAK TUA itu sudah tidak tampak batang hidungnya.

”Orang tua itu baik sekali… . Terima kasih Tuhan, Engkau sudah menolong aku dengan mengirim orang yang bisa tepat pada waktu yang tepat pula!” bisik CINTA kepada Tuhannya. Tiba-tiba CINTA sadar bahwa dia berada di sebuah pulau yang sebenarnya tidak asing bagi dia. CINTA pernah ke pulau ini ketika beberapa tahun lalu dia mengunjungi seorang sahabatnya. Nama sahabat itu PENGETAHUAN. Maka segeralah CINTA mencari PENGETAHUAN untuk menanyakan apakah dia kenal PAK TUA yang telah menyelamatkannya itu. CINTA pun bertanya kepada PENGETAHUAN, “Hai PENGETAHUAN, kamu tahu gak, siapa sih PAK TUA yang tadi membantu menyelamatkan saya?”

Sambil mengangguk-anggukkan kepala, PENGETAHUAN menjawab, katanya, “Wah CINTA, kamu beruntung banget. Orang yang menolong kamu itu memang orang baik dan sangat terkenal di pulau ini. Masyarakat di pulau ini memanggil dia WAKTU.”

“WAKTU?” tanya si Cinta. “Kira-kira mengapa WAKTU mau membantu saya?”

Mendengar itu, PENGETAHUAN pun tersenyum. Sambil menepuk pundak CINTA, PENGETAHUAN menjawab kegundahan hati sahabatnya, katanya, ”Sahabatku, hanya WAKTU yang mampu memahami seberapa besarnya CINTA itu.”

”Hanya WAKTU yang mampu memahami seberapa besarnya CINTA,” ulang CINTA dalam hatinya.

Saduran dari : Buah Pena

13 comments

  1. Wah ceritanya bagus seperti ada apa dengan cinta hehe

    1. itu arsip lama bang kamal, abisnya dua hari ini otak saya sakit kalau diajak berfikir🙂

  2. waktu saya mudah saya sudah faham apa itu cinta.. hahhaaa

    1. saya malah kelas 6 SD dah mulai pacaran mas, hehehe…

  3. salaam bang,,,
    cerita yg menarik dan hikmah yang sangat bermanfaat,,
    saya sudah sering baca kisah ini dan ga akan bosen2 baca kisah2 yang seperti ini..

    salaam

    1. Salam juga bang map,
      Ini post lama bang, saya jadikan sticky post, soalnya saya belum bisa mengembangkan imajinasi menulis saya sekarang berhubung sakit kepala ini sudah kumat lagi.
      trims sudah berbagi warna disini bang, cerita diatas setidaknya punya makna sedikit utk kita jadikan renungan
      saleum dmilano

  4. postingan yang romantis,
    saya pernah membawakan cerita ini pas tes cerita ke depan kelas pas training kerja hihi

    1. Betul mbak, cerita ini memang bagus, makanya saya jadikan sticky post untuk sementara
      trims dh mampir🙂

  5. nice story mas..🙂

    1. thanks🙂

  6. so sweeet romantis banget euuy😀
    iya hanya waktu yang mengerti cinta..sampai kakek dan nenek puun ehehehe

    1. Wkwkwkkkk…. sesekali romantis kang, dah lama gak beroman romans ria..

  7. iswan isfahan · · Reply

    puitis banget kang

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: