Kawin Muda, Kenapa…???

Nikah memang punya banyak makna. Ia bisa berarti menegakkan sunnah Rasul. Bisa juga sebagai pemenuhan tuntutan fitrah. Juga, sebagai penyambung keberlangsungan hidup umat manusia. Ada hal lain buat mereka yang nikah di usia muda. Nikah juga bermakna perjuangan.

Hampir tak satu pun manusia yang betah membujang. Selalu saja ada hasrat untuk hidup berpasangan. Pria rindu ingin bersama wanita. Dan wanita kangen disayang pria. Hasrat-hasrat alami itu akan punya nilai tinggi dalam taman indah yang bernama nikah.

Masalahnya, bagaimana keindahan taman itu jika ikatannya terjalin di saat muda. Muda usia, muda pengalaman, muda pendidikan, dan muda penghasilan. Saat itulah terjadi pertarungan yang lumayan sengit: antara idealita dengan realita. Antara cita-cita tinggi dengan kenyataan hidup yang mesti dilakoni. Dan pertarungan itulah yang kini dialami Jaka.

Dua tahun sudah calon bapak ini mengarungi bahtera rumah tangganya. Seribu satu suka dan duka ia nikmati bersama isteri tercintanya. Kadang ia berkesimpulan bahwa nikah itu anugerah indah. Sedemikian indahnya, sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Tapi, tak jarang kesimpulan sebaliknya bisa hinggap. Jaka juga kerap berkesimpulan bahwa nikah merupakan perjuangan yang teramat berat.

Awalnya, bayang-bayang indah pernikahan lebih dominan dari perjuangannya. Walau baru setahun lulus sekolah menengah atas, Jaka sudah punya tekad bulat: “Saya harus nikah, insya Allah!” Dan, tekad itu benar-benar menggulir walau mesti melalui rel yang tidak mulus.

Mungkin, banyak pihak di sekitar Jaka yang geleng-geleng kepala. Ada apa dengan anak ini? Apa ia tergolong hiper seks. Atau, jangan-jangan sudah terjadi kecelakaan. Atau…? Masih banyak lagi dugaan yang tidak enak didengar oleh seorang Jaka yang juga aktivis rohis di sekolahnya.

Dan yang tidak kalah sengitnya adalah orang tua Jaka sendiri. Ayah ibunya bingung. Kok, anak saya jadi begini. Apa ini pengaruh dari ajaran rohis? Orang tua Jaka yakin seratus persen kalau Jaka tidak mungkin melakukan penyimpangan. Jangankan hubungan gelap, hubungan terang saja tak pernah diperlihatkan Jaka. Boro-boro dua-duaan, ketemu wanita saja Jaka sudah alergi: pandangannya tertunduk, wajahnya pucat, tubuhnya banjir keringat. Lalu?

“Saya bertekad nikah karena ingin segera dapat surga dunia dan akhirat,” jawab Jaka tenang. Kontan saja, kedua orang tua Jaka tertegun. Hampir tak ada celah buat menjegal tekad Jaka. Sejak SMP, Jaka memang sudah rajin dagang. Ia memang bukan tipe anak yang suka berlidung di balik kantong orang tua. Semua biaya sekolahnya hampir seratus persen mengucur dari kocek sederhananya. Termasuk, biaya buat walimahan.

Saat itu, tak ada bayang-bayang pun yang melintas di benak Jaka kecuali keindahan. Betapa sejuknya hati ketika menatap senyum isteri. Betapa semangatnya hidup ketika cinta tak pernah redup. Betapa tenangnya pandangan mata ketika syahwat tak lagi terpenjara. Dan, betapa mantapnya iman ketika nafsu tak lagi gampang dipermainkan setan.

Berlangsunglah masa-masa indah kehidupan Jaka. Hari berganti hari dan bulan pun menjumpai tahun. Ternyata, hidup tak selamanya penuh pesona wewangian taman bunga. Ada kalanya hidup penuh bara api dan asap tebal yang menyesakkan. Idealita sering tak cocok dengan realita. Dan nada-nada itulah yang kini bersenandung mengiringi keluarga Jaka.

Bisnis serabutannya tak lagi lancar seperti dulu. Ada saja masalahnya. Madu yang biasa dilakoni Jaka kurang diminati pelanggan. Pedagang koran pun mulai bertebaran. Kian banyak saingan di sektor ini. Sementara, biaya kuliahnya kian naik. Biaya kontrak rumah pun mulai melonjak. Isteri mulai ngidam. Tubuhnya lemas, perutnya mual-mual, kepalanya sering pusing-pusing. Tentu saja, sang isteri tak lagi sempurna menunaikan urusan rumah tangga dan kampus. Apalagi mencari penghasilan sampingan.

Mulailah irama ketidakstabilan mengiringi hidup Jaka. Konflik pun kian bermunculan. Seperti saat ini saja, Jaka bingung mau pinjam duit ke siapa lagi. Bulan lalu sudah pinjam ke teman kampus. Minggu lalu pinjam ke teman pengajian. Sementara, kebutuhan terus mengalir dan tak kenal penundaan. Ke orang tua?

Ini yang paling dijaga Jaka. Seberat apa pun beban hidup, Jaka tak mau berurusan dengan orang tua. Ia bukan ragu tentang kemurahan orang tuanya. Bukan juga takut. Tapi, Jaka tak mau kalau idealismenya luntur hanya karena soal makan. Terlebih setelah Jaka janji tak mau ngerepotin orang tua.

Kadang, suasana kejepit seperti itu menumbuhkan bayang-bayang masa lalu. “Kamu yakin nggak akan menyesal, Jaka?” pertanyaan-pertanyaan ibunya dua tahun lalu tak jarang menggoda ketegarannya. Kenapa nggak selesai kuliah dulu. Kenapa nggak cari kerja yang enak dulu.Kenapa nggak beli rumah dulu.

“Benarkah saya menempuh rute jalan yang salah?” sebuah pertanyaan menukik tajam ke lubuk hati Jaka. Ah, benarkah? Sikap tegar Jaka kian sengit bertarung dengan kegelisahannya. Kadang tegar menguasai keadaan. Dan tak jarang, gelisah menyetir suasana. Dalam pertarungan imbang itu, sikap kritis Jaka kerap menjadi penengah. Mestikah roda hidup selalu bergulir secara seri dan linier? Tidakkah mungkin ada lompatan-lompatan?

Ketegarannya mulai menguasai keadaan. Masih kuat dalam benak Jaka kisah teladan Rasul dan para sahabat. Sebuah fragmen hidup masa lalu yang tak kunjung kering dari air pelajaran. Siapa yang mengira kalau seorang penggembala yatim bisa menjadi pemimpin besar umat ini. Siapa yang menyangka kalau seorang budak, Bilal bin Rabbah, bisa tampil menjadi pemimpin yang disegani. Siapa yang menyana kalau seorang budak buangan, Zaid bin Haritsah, bisa melahirkan seorang panglima perang yang ditakuti.

Sahabat, Hidup memang perjuangan. Suka dan duka pasti akan menjambangi setiap manusia. Tak peduli apakah manusia itu menganggap hidup sebagai perjuangan atau tempat bersantai. Jaka tersadar dengan keadaannya. Kini, bukan saatnya lagi mempersoalkan halte hidup yang telah terlewati. Ada dua resep yang akan ditebus Jaka: hadapi hidup apa adanya, dan jangan coba-coba lari dari kenyataan perjuangan.

Kesusahan dan kemudahan tak ubahnya seperti dua muka kepingan uang logam. Satu sama lain tak akan berpisah jauh. Bersama kesusahan ada kemudahan. Sungguh, bersama kesusahan ada kemudahan. Kesusahanlah yang menguatkan bahwa menikah itu perjuangan. Dan kemudahan, insya Allah, kian menguatkan warna-warni indahnya pernikahan.

teruntuk sahabatku : Suhaimi S.Pd dan Ayu : “semoga mampu membina keluarga yang sakinah dan mawaddah serta penuh rahmah, Tegarlah dengan Rumah tangga yang sudah kalian bina…. “

34 comments

  1. hidup memang pilihan.. smua pasti ada suka dukanya.. smoga teman mas dmilano ttp langgeng mas

    1. trims atas doa nya bang tomi,
      saleum

  2. nice post…

    1. trims🙂

  3. Wah, senangnya jika melihat seseorang bisa membina rumah tangga sedini mungkin. Pas nanti anaknya telah besar, mereka nggak kerepotan lagi dan tinggal memetik hasilnya saja. Beda kalau nikahnya di usia tua. Anak2 masih kecil tapi masih harus mengurus. Tapi semuanya takdir. Nikah pada usia tua dan muda semuanya Allah SWT yang mengatur

    1. betul mas ifan, saya sangat sependapat. urusan rezeki sudah ada yang ngatur
      saleum

  4. Ichi · · Reply

    Wah, artikel beginian nih, yang bisa membuat saya termotivasi untuk menikah.

    1. yang penting di niatkan dalam hati, dan saya juga mendoakan agar sob ichi cepat menikah
      saleum

  5. waaa….. buat temennya mas dmilano
    tetep semangat ya, dlm mengarungi bahtera rumah tangganya.

    1. trims mas adnan atas doanya, semoga
      saleum

  6. Menikah memang pilihan mudah, tapi menjalani pernikahan juga bukan perkara yang mudah..

    1. makanya harus punya kebulatan tekad untuk mengarunginya mbak, dengan semua itu kita akan mengetahui akan tanggung jawab dan kewajiban yang akan kita emban kelak
      saleum

  7. sayyidahali · · Reply

    Menikah dgn niat atas nama Allah,atas nama menyempurnakan agama,Insya Allah, Allah tak kan sia siakan.adapun cobaan bagi manusia adalah mesti berlaku, baik ia menikah atau tidak..pastinya Allah menguji manusia sesuai kemampuan masing2..
    Mudahan Allah beri ketabahan dn kemudahan buat temannya..amien.
    Salam

    1. Aamiin, semoga demikian hendaknya, cobaan memang sangat besar yang dirasakan mereka saat ini, semoga kuat menjalaninya.
      saleum

  8. hmmm…….setiap orang punya masalah dan beban yang berbeda. tapi yang harus slalu diingat. Allah tak akan membebani manusia diluar batas kemampuannya. Yakin, pasti kita bisa. Kalo tak yakin, ya tentu gak usah dipikir lagi, sudah tentu akan gagal.
    like this🙂
    salam

    1. saleum kang tun
      memang betul seperti yang kang tun bilang itu, harus yakin sesuai dengan niat.
      saleum

  9. hihihih,, mengupas nikah juga ahirnya bang..😀

    ikut mendoakan temennya bang dmilano ya, semoga Allah selalu memberkahi mereka..

    Aduuh, saya kadi pengen cepet2 nikah ni bang, gimana dong?? Hehehe

    1. halahai bang mab, kebetulan seorang sahabat sedang berada dimasa sulit rumah tangganya, makanya saya mencoba menampilkan postingan ini semoga si sahabat bisa belajar dari kisah si JAKA, juga untuk para sahabat yg lain, mudah2an bisa menambah wawasannya mengenai nikah dan tanggung jawabnya.
      kalau bang mab sudah siap lahir bathin kenapa gak dilaksanakan nikahnya, ntar kalo kelamaan bisa masuk angin lho bang😆
      ntar kalo merid undang2 saya ya bang,.
      saleum

  10. hehee.. Sy di suruh nikah muda, tp belum siapp..
    Sipp artikelnya🙂
    smga sahabtnya awet langgeng dan bahgia yah..

    1. karena nikah mesti harus siap lahir dan bathin, dan dibarengi dengan niat tulus, makanya disuruh nikah, jika belum siap semua itu, sebaiknya dont try this at home,😀
      saleum

  11. Salam Takzim
    Saya sudah nikah, sebelum tulisan ini direplay bang
    Menikah muda penuh hikmah bang, Alhamdulilah sekarang tinggal menikmati masa tua dengan celoteh segar dari para bidadari keluarga bang
    Salam Takzim Batavusqu

    1. saleum bang Is,
      Alhamdulillah, para bidadarinya sudah menemani dan memberi warna warni dalam rumah tangga abang, alangkah indahnya seperti itu…
      saleum

  12. baik kawin muda atau tua semua pasti akan menemui kerikil krn itu adlh bumbu wajib dalam suatu hubungan🙂

    1. kerikil yang kadang akan menjadi pemersatu dan juga bisa menjadi pemisah,
      semoga semakin bijak untuk menjalani bahtera rumah tangga,
      saleum kang trizz

  13. Anugrha13 · · Reply

    pengennya seh nikah muda tapi belum punya calon #eh

    1. semoga cepat mendapat calon ya sob,🙂
      saleum

  14. semangat Kak Jaka v(>_<)v
    saya juga gpp nikah muda asal calonnya sudah siap dari banyak segi baik segi mental, fisik, materi dan ilmu hhehhe

    1. semoga niatnya kesampaian ya mbak🙂
      saleum

  15. Iya nih, kalo ada yang nikah muda, pasti orang2 slalu berfikir negatif duluah.
    “ah..paling juga cweknya udah hamil duluan tuh”, dll.
    Ngomong2 soal nikah muda, gak etis juga ya kalo nikah tapi belum punya penghasilan😀

    1. Masalah penghasilan saya katagorikan sebagai rezeki, dan urusan rezeki sudah ada yang ngatur, tinggal manusianya saja yang harus bergiat diri untuk mendapatkannya, mungkin si jaka memang sudah besar niatnya untuk berkeluarga, sehingga dia menyerahkan nasib dan peruntungannya pada tuhan yang maha esa
      saleum

  16. ejawantahblog · · Reply

    Kawin muda pasti bermasalah Sob, tapi kalau dengan nikah umur muda itulah yang tidak ada masalahnya Sob.

    Dengan segala kerendahan hati Ejawantah’s Blog menghantarkan Blogger Award 2011 secara bergulir kepada sahabat, dan Award dapat diambil di http://ejawantahnews.blogspot.com/2011/06/menerima-menebar-harta-karun-dari-dunia.htm.

    Dan selamat pagi sahabat semua, selamat bergembira, dan tetaplah semangat. Sukses selalu.

    Salam
    Ejawantah’s Blog

    1. saleum juga,
      sepertinya antara kawin muda dengan nikah umur muda gak kompak ya sob…??🙂
      semoga saja mereka dikuatkan hati menerima masalah2 yang ada
      trims atas awardnya, alhamdulillah
      saleum

  17. ***Sahabat, Hidup memang perjuangan. Suka dan duka pasti akan menjambangi setiap manusia. Tak peduli apakah manusia itu menganggap hidup sebagai perjuangan atau tempat bersantai. Jaka tersadar dengan keadaannya. Kini, bukan saatnya lagi mempersoalkan halte hidup yang telah terlewati. Ada dua resep yang akan ditebus Jaka: hadapi hidup apa adanya, dan jangan coba-coba lari dari kenyataan perjuangan.****

    Terima kasih share-nya. Mengingatkan bahwa kita tak sendirian dalam berjuang.

    1. betul mbak susi, Sebaik baik manusia adalah yang terus berusaha memperbaiki kehidupannya, semoga perjuangan itu mendapat berkah dari Nya, aamiin
      saleum

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: