Hikayat si Luqman

Pernah terganggu oleh opini orang lain? Saya nyaris selalu mengalaminya. Memang, saya bertindak sesuai dengan apa yang saya anggap benar, tapi terkadang opini orang lain yang berseberangan dengan kita, terngiang-ngiang di kepala saya. Inilah kebiasaan jelek saya, segala yang kecil dan tidak penting dipikirkan terlalu dalam.

Saya akan mengambil sebuah contoh cerita yang kebetulan saya dapatkan dari sebuah media cetak nasional dan pernah saya tag kan di catatan FB saya kemaren.
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Luqman memasuki pasar dengan anaknya — dan seekor keledai.

Ketika memasuki pasar, Luqman menaiki keledai, dan anaknya berjalan kaki. Orang-orang di pasar pun mulai berkata-kata; “Orang tua yang kejam, anaknya dibiarkan berjalan kaki, dianya enak-enak di atas keledai.”

Luqman pun terkejut. Padahal, ia tidak bermaksud mendzalimi anaknya. Ia pun kemudian turun, dan membiarkan anaknya menaiki keledai. Mereka pun berjalan kembali.
Namun, orang-orang di pasar malah berkata-kata; “Anak yang tidak berbudi! Ayahnya disuruh berjalan, dianya enak-enakan di atas keledai!”

Semakin bingunglah Luqman; bukan maksudnya membuat anaknya terkesan durhaka. Ia pun kemudian naik bersama-sama anaknya. Dengan begini, masalah pun akan terpecahkan, gumamnya.
Namun orang-orang pun tetap mencibir; “Benar-benar kejam. Keledai mini begitu dinaiki berdua. Bisa pingsan, dia.”

Luqman pun terpaku, dan akhirnya memutuskan agar ia dan anaknya berjalan saja. Dengan begitu, tidak ada yang dirugikan. Selesai masalah? Tidak, hujatan orang pun berubah haluan; “Nah, ini dia yang namanya bodoh. Punya keledai, tidak dinaiki.”

Akhirnya, Luqman pun menggotong keledainya, ketimbang menaikinya. Jelas, orang-orang pun langsung menganggap mereka berdua bodoh. Dan Luqman pun terus menggendong keledainya sampai keluar pasar…

Setibanya mereka di tujuan mereka, Luqman berkata pada anaknya;
“Kita tidak akan terlepas dari perkataan-perkataan orang. Maka, bagi orang-orang yang berakal, pertimbangannya hanya Allah saja. Pertimbangan bagi orang yang mengenal kebenaran, adalah kebenaran.”

Tentunya interpretasi anda bisa berbeda dengan saya, tapi, bagi saya, sepenggal cerita itu membuka mata saya bahwa karena sebenarnya yang Maha Adil, Maha Tahu, Maha Mengerti, serta Maha Penyayang itu cuma Tuhan saja, saya seharusnya bisa berbuat apa yang saya anggap benar (dengan catatan tanpa merugikan orang lain tentunya, sebab seutama-utama iman ialah, terpelihara manusia umum dari gangguanmu) walaupun ada pro-kontra terhadap apa yang saya kerjak.

**dari sebuah cafe kecil diujung jalan…..

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: