Terbuka Pada Perubahan

Ada satu hukum alam yang tidak pernah berubah, yaitu perubahan itu sendiri. Perubahan lahir sebagai respon alami menghadapi masa depan yang penuh misteri, terra incognita, kata Alvin Tofler. Siapa yang tidak berubah dalam dunia yang terus berubah, ia akan menjadi korban pertama dan utama dari sejarah manusia. Yesterday is history, tomorrow is mistery. Change is a must.

Sekedar menggambarkan, dalam dunia yang terus bergerak, kita mengenal banyak sekali istilah baru untuk menengarai perubahan ini: clazh of civilization, new economy, knowledge management, knowledge society, learning organization, network organization, crazy organization, virtual organization, bahkan virtual state, dan seterusnya. Isu-isu tidak lagi bersifat domestik-lokal, tetapi merupakan wacana global yang menembus batas-batas konvensional, borderless.

Informasi berseliweran tak terbatas. Pengetahuan tersebar luas. Namun sungguh ironis, tetap saja kita selalu gagal memprediksi masa depan yang lebih baik. Overloud informasi justru menjadikan kita gagap dalam memilih dan memilah mana yang bermanfaat bagi kita dan masa depan dan mana yang tidak bermanfaat. Dalam kondisi seperti ini, tepat apa yang diungkapkan oleh Winston Churchill di atas, dunia bergerak terlalu cepat melebih kecepatan manusia (pada umumnya) untuk berubah ¬– dalam cara fikir dan cara kerja. Artinya, kita bergerak terlalu lambat (to late and to litle)

Satu hal yang dapat kita deteksi dari proses perubahan ini, kita memasuki abad pengetahuan (knowledge age). Dengan demikian ia menuntut perubahan yang cepat pada struktur alam pikiran kita tentang apa, mengapa, dan bagaimana (selanjutnya) berbagai peristiwa terjadi dan interkorelasi satu dengan yang lainnya.

Dalam dunia semacam ini, SDM dan isi dibalik kepala (brain) dan kesadarannya (conscience) menempati posisi tertinggi dalam piramida aset. Manusia menjadi aset terpenting, karena itu pendekatannya mestinya efektivitas. Ini berbeda dengan aset lain dimana justru dibutuhkan pendekatan efisiensi. Makanya, saya heran pada negara ini, yang mengalokasikan budget untuk pendidikan sedemikian kecilnya. Pemerintah terjebak, menggunakan pendekatan dan pertimbangan efisiensi untuk urusan investasi SDM.

Demikian juga dengan masyarakat kebanyakan, tidak sedikit dari mereka yang kaya raya, namun enggan menanamkan uang untuk investasi SDM, mereka lebih suka berinvestasi untuk perusahaan, untuk barang, dan untuk uang itu sendiri (money for money). Betapa sedikit dari orang-orang kaya yang mendermakan hartanya untuk kemajuan SDM: mendirikan lembaga pendidikan berkualitas, memberikan beasiswa, dan sejenisnya. Dalam kondisi budaya masyarakat semacam ini, jauh panggang dari api berharap kita mampu berkompetisi di abad penetahuan dan informasi saat ini.

Secara individual, hendaknya setiap orang menyadari:

Pertama, setiap orang adalah pemimpin.

Kedua, setiap pemimpin (harus) menguasai perubahan. Dan

ketiga, penguasaan atas perubahan mensyaratkan pemahaman atas tren mutakhir dalam arus besar di zamannya.

Sekarang abad pengetahuan dan informasi. Seorang pemimpin di abad ini harus mampu mengadopsi dan mengembangkan nilai-nilai baru yang relevan dengan arus besar pengetahuan dan informasi. Pada abad ini, mengutip Andreas Harefa, pemimpin harus menjadi knowledge leader.

Kata “knowledge” atau “pengetahuan” tidak saja bermakna teori-teori dan konsep-konsep yang abstrak sebagaimana dipelajari di universitas atau sekolah bisnis konvensional-klasikal, melainkan juga keterampilan atau kompetensi tertentu, kemampuan melakukan tugas dan tanggung jawab kepemimpinan, termasuk kemampuan mengelola pengetahuan pada tingkat korporasi (knowledge management).

Pemimpin pada abad ini, meminjam konsep Kouzes-Posner dalam The Leadership Challenge, berperan utamanya dalam: challenging the process, inspiring a shared vision, enabling others to act, modelling the way, and encouraging the heart.

Dalam keadaan bangsa yang bingung kepada siapa teladan seorang pemimpin diperoleh saat ini,konsep Kouzes-Posner di atas hendaknya membenam dalam setiap individu masyarakat. Kita yang harus mengambil peran-peran itu, dalam lingkup aktivitas dan kompetensi masing-masing. Untuk mengambil peran itu, pertama-tama, kita perlu membuka gembok-gembok psikologis di kepala kita – gembok yang selama ini membuat kita jumud, tertinggal, dan terbelakang – menjadi kita yang “BISA!,” “BERUBAH!,” dan “LEBIH BAIK!.”

Kita harus segera melakukan benchmarking ( menyelaraskan diri ) dengan kemajuan pengetahuan dan informasi. Kuasai pengetahuan, keterampilan, karakter dasar untuk dapat hidup, bergerak dan menggerakkan, di abad ilmu dan informasi ini. Belajar, membaca, berkarya dari dan untuk kemajuan ilmu dan informasi menjadi sebuah keharusan. Kemajuan dan perubahan menuntut kita untuk tidak lagi hidup dalam tempurung (alias jago kandang), yang sering berwujud nyata dalam egoisme kelompok, golongan, partai, kesukuan, bangsa, dan seterusnya.

Inilah tanggung jawab pemimpin di abad ini – belajar menjadi manusia universal yang menguasai kemajuan masyarakatnya: challenging the process, inspiring a shared vision, enabling others to act, modelling the way, and encouraging the heart.

Dari sini, saya mulai menyukai setiap perubahan yang ada pada diri saya. Karena sebenarnya perubahan adalah kodrat dari yang Kuasa. Tinggal bagaimana kita menerima dan menjaga serta memanfaatkan perubahan itu.

Tulisan ini memotivasi saya agar percaya pada perubahan. Baik maupun buruk. Sebuah perbaikan diri bagi kita semua dan semoga dapat membuat perubahan yang positif.

Semoga berguna untuk kita semua, amin…..

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: