Jangan memandang enteng urusan kecil

Kecil! itu gampang diatasi. Perkataan seperti biasanya terucap ketika sedang menghadapi sebuah masalah yang kita anggap kecil atau gampang diselesaikan sehingga kita pandang enteng dan terkesan mengabaikan masalah itu.
Padahal berapa banyak petuah untuk tidak mengabaikan hal-hal yang kecil karena besar dibangun dari kecil dan hal yang kecil apabila dibiarkan akan menjadi besar. Dulu pada jaman SMP saya pernah membaca dongeng dari India tentang seorang Raja yang bernama Railendar Singh. Maharaja yang kaya raya serta punya balatentara yang sangat kuat semua negara tetangga sudah ditaklukkannya, cuma dia punya satu kelemahan suka memandang enteng sebuah masalah dan selalu memandang kecil orang lain, seakan-akan orang lain tidak bernilai dimatanya.

Sampai pada suatu hari putrinya Jasvinder sakit, sutri menggigil padahal tubuhnya panas luar biasa, semua tabib istana tidak bisa menyembuhkannya. Untuk pertama kalinya ia merasa khawatir. lalu ia berpikir saya kan punya banyak uang saya bikin sayembara saja.  Ia mengumumkan ” barang siapa bisa menyembuhkan putriku akan dibayar atau diberi apa saja yang ia minta”. Lalu berdatanganlah orang-orang pintar dari seluruh dunia untuk mengobati sang putri, tapi apa daya sang putri belum sembuh juga.

Sang Raja mulai cemas ketika pada akhirnya seorang cendekiawan muda berpakaian sederhana datang kehadapannya dan meminta ijin untuk mengobati sang putri. “Kamu tidak akan bisa anak muda, tetua yang sudah malang-melintang dalam dunia pengobatan saja tidak bisa, apalagi kamu anak kemarin sore”. Sifat suka meremehkan orang lainnya kumat lagi. “Ampun Paduka ijinkan saya mencobanya”. Jawab sang pemuda dengan sopan. Lalu Railendar memberi isyarat dengan anggukan kepala. Pemuda yang bernama Mahendra itu lalu merendang sebuah tanaman dalam air panas dan meminumkan airnya kepada sang putri aneh bin ajaib setelah meminum air sang putri langsung sembuh.

Sang Raja tertawa”  hai anak muda sesuai janji saya mintalah sesuatu dan pasti akan saya kabulkan’. “Paduka saya cuma meminta hal kecil, paduka kenal catur, catur punya kotak 64, nah saya cuma minta 1 butir gandum pada kotak pertama, 2 butir pada kotak kedua, 4 butir di kotak 3, 8 butir di kotak ke 4, 16 butir di kotak 5, 32 butir di kotak 6”. “Sudah, sudah terlalu panjang penjelasannya, juru hitung dan penjaga gudang tolong bayarkan permintaannya”. ucap sang raja memotong pembicaraan setelah itu sang raja pergi.hari demi hari berlalu 7 hari sudah Mahendra tinggal di Kerajaan sang raja heran dan bertanya kepada juru gudang dan juru hitung “kenapa dia masih ada disini, apa kalian belum memberi permintaannya, dasar abdi-abdi goblok”. lalu sang juru hitung dengan menunduk menjelaskan ” paduka permintaan pemuda itu yang semula kita pandang enteng dan anggap ringan ternyata amat berat untuk dipenuhi, biar saya lanjutkan penjelasannya 64 butir dikotak 7, 128 butir di kotak 8, 256 dikotak 9, 512 di kotak 10, 1024 di  kotak 11, 2048 di kotak12, 4096 di 13, 8192 di 14, 16384 di 15, 32768 di 16, 65536 di 17 itu baru di 17 paduka bila dihitung sampai di kotak 64 maka jumlah keseluruhannya adalah 12.657.789.234.345 butir maka meskipun seluruh butir gandum di negeri kita dikumpulkan tidak akan sanggup untuk memenuhi jumlah itu.
Sang raja tertunduk keangkuhannya hilang , permintaan sang pemuda telah memberinya pelajaran bahwa kita tidak boleh memandang enteng sebuah hal dan kita tidak boleh takabbur merasa diri punya segalanya..    

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita diatas,…

by URBAN BLOGGER/dmilano

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: