Timnasku diantara Nurdin Halid dan Alfred Riedl

Fenomena akhir tahun 2010: Tim sepakbola Indonesia menang telak 5-1 ketika bertemu Malaysia, kemudian dilanjutkan dengan ‘pembantaian’ terhadap pasukan Laos di lapangan hijau 6-0. Kedua hasil spektakuler ini diraih Timnas di kejuaraan Piala AFF 2010.

Benar-benar fenomena, tapi kenapa? Bukannya skor 5-1 ataupun 6-0 sudah pernah terjadi dipersepakbolaan dunia? Kalau skornya 20-0 baru spektakuler, ya ngga?

Ke-fenomenaan ini terjadi karena ke-ironisan yang selama ini terjadi terhadap persepakbolaan Indonesia; di mana sepak bola adalah cabang olah raga terbesar di negeri yang memiliki jumlah penduduk sekitar 240,000,000 jiwa, tapi kita tidak mampu memilih 1 tim hebat yang terdiri dari 11 pemain utama dan beberapa pemain cadangan yang siap tempur.

Alhasil, dengan kemenangan-kemenangan yang telah diraih hingga Timnas kita masuk Final AFF 2010 ini, Timnas sepakbola kita yang akan berhadapan dengan Malaysia di Final mendapatkan perhatian dan dukungan penuh ‘seluruh’ rakyat Indonesia. Kenapa? Karena ternyata kita belum pernah menjuarai kejuaraan tingkat Asia Tenggara ini!

Tidak bisa dipungkiri, fenomena ini juga dikontribusikan oleh banyak media massa, terutama program-program infotainment di TV. Ya, orang-orang yang tidak suka bola, jadi tahu dikit banyak tentang sepak terjang Timnas karena kegantengan beberapa pemain yang tergabung di Timnas ini. Sebut saja Irfan Bachdim, juga satu lagi pemain naturalisasi, Christian Gonzales.

Tapi,… yang mau saya bahas sedikit tentang Timnas, bukan tentang hal ini, tapi lebih kepada pertanyaan, “Apa sih yang selama ini kita tidak punya, sehingga seolah-olah untuk bisa hadir di putaran final Piala Dunia itu merupakan sebuah angan-angan yang seolah-olah tidak akan pernah mampu direalisasikan oleh negeri kita tercinta yang memiliki sekitar 240,000,000 jiwa ini?”

Kalau menurut saya, jawabannya adalah, “Kita ngga punya seorang Leader!” Ya, sepakbola kita mungkin selama ini ngga punya seorang sosok pemimpin yang pantas dihormati oleh jajarannya, dan mampu untuk memimpin.

Saya bukan pengamat sepakbola, jadi sudut pandang saya hanya sebagai seorang awam yang mencoba melihat ke dalam inti permasalahan persepakbolaan nasional. Tapi, saya rasa kebanyakan orang juga akan setuju bahwa seseorang yang pernah terbukti bersalah, masuk penjara, seharusnya dilepas dari jabatan apapun yang sedang dia pegang.

Saya pernah baca sebuah koran yang bilang, “Cuma di Indonesia, tim sepakbolanya dipimpin dari dalam penjara.” Nah loh?! Kalau saya fast forward ke hari ini, lalu kenapa Timnas bisa mendadak mampu bermain luar biasa? Kan Ketua PSSI-nya masih orang yang sama?

Jawabannya mungkin ada di seorang sosok pelatih Timnas saat ini: Alfred Riedl, asal Austria. Jujur saya juga ngga kenal dia. Tapi dari pemberitaan surat kabar, juga dari pernyataan Nurdin Halid (Ketua PSSI) di salah satu TV nasional yang ketika diwawancara bilang bahwa Alfred Riedl membatasi waktu Ketua PSSI sekalipun dalam bertemu para pemain yang tergabung di Timnas!

Bukannya saya ngga setuju Ketua PSSI yang sekarang banyak bertemu dengan para pemain Timnas, tapi saya setuju dengan ketegasan seorang Alfred Riedl. Pemimpin memang harus bisa tegas. ‘Atasan langsung’ para pemain di Timnas ya pelatihnya, bukan Ketua PSSI, bukan juga Presiden Republik Indonesia. Jadi, yang berhak untuk mengatur para pemain Timnas ya bukan Ketua PSSI, tapi pelatihnya.

Dengan ketegasan yang dimiliki Alfred Riedl, saya sungguh ngga heran kalau Timnas kita mampu bermain lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Saya ngga bilang Timnas kita pasti jadi juara di AFF 2010, tapi yang pasti kalau kepemimpinan ditingkat pelatih mampu dipertahankan atau bahkan didukung penuh oleh PSSI dan Kementrian Pemuda dan Olah Raga, saya yakin untuk Timnas bisa tampil di putaran final Piala Dunia sudah lagi bukan jadi angan-angan bersama seluruh rakyat Indonesia.

Seperti di berbagai seminar leaderhip dan entreprenurship yang kita lihat, seorang pemimpin yang baik haruslah berpikir dan bertindak seperti layaknya seorang pelatih sepakbola. Dia harus mampu (1) menilai timnya (2) merekrut pemain (3) melatih dengan disiplin (4) melihat kekuatan lawan (5) membuat strategi (6) mendelegasikan tugas kepada semua pemainnya ketika di lapangan tanpa intervensi lebih dalam.

Semoga dana pembinaan PSSI akan lebih bisa dirasakan langsung untuk para calon-calon pahlawan persepakbolaan di Indonesia. Semoga pelatih, asisten pelatih, manajer, para pemain, wasit, dan PSSI sadar bahwa Indonesia juga bisa harum namanya kalau mereka semua bekerja dan berusaha dengan sepenuh hati, dan menolak yang namanya korupsi dalam bentuk apapun!

See you ON TOP, Timnas Sepakbola Indonesia!🙂

 

2 comments

  1. This is a good blog. Keep up all the work. I too love to blog. This is great every person sharing opinions. Magnificent post, very informative. You must continue your writing. I’m confident, you have a great readers’ base already!

    1. ok, thanks guys..

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: