Si Hitam Manis nan Menggoda

 Sihitam manis senantiasa menemani acara duduk santai saya diberanda rumah, apalagi disaat cuaca pagi ini hujan dan membiaskan dingin ditubuh, menikmati sihitam manis olahan sendiri yang hot sambil nyantap kue serabi adalah solusi yang tepat saya kira sebelum berangkat ke tempat kerja. Ohya sob, Si Hitam manis ini adalah hasil temuan saya sendiri yang belum pernah dipublikasikan didepan umum dan hanya pernah di “cicipin” oleh teman – teman terdekat saja. Beberapa teman saya yang sering main kerumah mengatakan bahwa si hitam manis olahan saya ini jauh lebih “berisi” dibandingkan dengan sihitam manis yang ada di warkop – warkop Banda Aceh. ( ho..ho…ho… agak naik kuping saya waktu mereka muja – muji…🙂 ). Saya namakan sihitam manis itu dengan Kopi Datak, ( he .. he…he.. saya cerita tentang kopi kok sob🙂 )

Pemberian nama itu mempunya arti tersendiri, artinya begini, setiap setelah minum seteguk kopi ini, lidah akan spontan berdecak, kalo bahasa daerah saya datak itu berdecak. Kok bisa? Ya bisa dong, hehehe… ( yang jelas bukan sulap, bukan sihir😀 ) Saya senantiasa menggunakan kopi yang berasal dari kampung halaman saya di Kluet Selatan atau lebih dikenal dengan Kopi Kluet. Disana ada beberapa cara pengolahan biji kopi hingga menjadi bubuk kopi siap saji. Yang pertama biji kopi di olah dengan dicampurkan dengan beras atau jagung agar tidak memabukkan para peminumnya, padahal saya yakin yang minum tidak akan mabuk, paling – paling juga tidak bisa tidur semalaman akibat efek dari kopi itu. sementara yang kedua, biji kopi diolah tanpa ada campuran apapun sehingga hitamnya jelas terlihat dan citra rasanya akan terasa sekali dilidah, rasa sedikit kelat dan asam nya itu agak kentara dilidah dan itulah penyebab kenapa lidah kita berdecak setelah minum seteguk. Saya milih yang kedua itu sebagai minuman dipagi hari.

Pengolahan tradisioanal

Sebagai penikmat kopi sejati ( ngakunya,…🙂, memang janggal rasanya ketika duduk – duduk tanpa ada secangkir kopi yang menemani, Ibarat kata pepatah “ Seperti Koboy tanpa Kuda”🙂 demikianlah yang akan saya rasakan. Apakah itu berlebihan sahabat?, Bagi saya tidak berlebihan kok, karena setiap personal punya gaya dan ciri khas masing – masing dalam menikmati minuman apa yang disukainya.

Sewaktu saya masih lajang dan masih suka berpetualang dengan rekan – rekan Pecinta Alam se Aceh Selatan, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kota penghasil biji kopi terbaik di Aceh dan di Indonesia ( begitu yang saya dengar dari media massa) yakni Gayo dan Takengon. Saya sempatkan untuk main di warkop disana sambil merasakan ciri khas kopi gayo, Namun saya tidak  mencicipi kopi luwak karena saya merasa sedikit jijik. kemudian dilain waktu kami ke takengon juga sambil merasakan sentuhan khas kopi takengon.

Dari “survey” itu saya menyimpulkan terdapat perbedaan sedikit dengan kopi kluet yang sering saya konsumsi. Cuma sayang, kopi kluet kurang dipublish sehingga yang sering kita baca dimedia massa bahwa diaceh cuma ada kopi ulee kareng, kopi gayo dan kopi takengon saja. Padahal kopi kluet punya daya tarik tersendiri dibandingkan dengan kopi – kopi dari gayo dan takengon. Semoga para wartawan – wartawan aceh sesekali mampir ke Kecamatan Manggamat untuk sekedar merasakan pantas atau tidaknya kopi kluet dipublikasikan.

Saya tidak mampu melukiskan dengan kata – kata bagaimana nikmatnya rasa khas dari jenis kopi tersebut karena saya tidak mahir mengolah kata seperti para jurnalis atau penyair sehingga mampu menjadi candu yang mengindahkan pandangan.

Begitulah sahabat, hadirnya sihitam manis dipagi hari adalah “vitamin” untuk tubuh ini, dan adalah aneh rasanya melewati pagi tanpa sempat bercengkrama dengan sihitam manis alias ngopi. Di akhir kata saya hanya kuasa mangajak, Mari kita kembali ke tugas masing- masing. Semoga kebaikan senantiasa menyertai langkah kita dihari ini.

Subhanallah, begitu banyak perbedaan yang dinampakkan Allah dikehidupan ini. Ada penikmat kopi, ada penikmat teh, juga ada penikmat air putih. Semoga perbedaan tersebut semakin membuat saya tunduk syukur memuji kebesaranMU ya Robb,…”

Saleum.

17 comments

  1. Indonesia sangat kaya flora dan pesona. satu lagi varian ‘kopi kluet’ menambah khasanah dan cita rasa. Hmmmmm jadi penasaran …..
    salam kenal

    1. salam kenal juga bang pur, sayangnya kita ga bisa ngopi bareng sekarang, sekalian ngerasain kopi kluet racikan saya….🙂

  2. kopi? terima kasih, saya air bening sajalah😀

    1. Mbak nique, oke lah kalau begitcu… berapa gelas mbak? 😀😀

      1. seember bang, die ga biasa pake gelas juga

        1. hahaha…. ntar kembung pula perut mbak nique,😀

  3. Hiyaaaaaaaaaa saya mau nyobaaaaaik ini kopiiii!😀😀

    1. Bang asop, kita cari waktu yang tepat ya,🙂

      1. Iya nih…. ongkos ke Aceh yang mahal..😐

        1. demi ‘rasa fanatik’ ongkos tidak masalah dong🙄

          1. hehehe… hehehee….

  4. berdecak, saya juga kalo minum kopi biasa di sini, berdecak, lho🙂

    1. Hehehe… berdecak decak bikin orang yang liat jadi penasaran bang🙂
      trims sudah mampir ya
      Saleum

  5. Salam Takzim
    si Hitam jangan pakai gula ya biar konsent nukis nya bang
    Salam Takzim Batavusqu

    1. Biasanya saya pake rumus bang dalam meracik kopi kluet supaya bisa maknyuzz….
      gulanya gak gitu terasa kok bang, tapi perpaduan keduannya itu yang bikin ketagihan… insya Allah kapan bang is ke aceh pasti saya suguhkan kopi kluet.🙂
      saleum dmilano

  6. Salam kenal….menarik membaca tulisannya tentang kopi kluet….izin kopas ya!…

    1. Silahkan, asal mencantumkan sumbernya saja🙂

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: