Hukum Cambuk

Maghrib baru saja berlalu dari bumi serambi mekkah, kupacu motor ini kesebuah tempat dimana sudah menunggu seorang sahabat yang lama tak bersua. Dari parkiran saya sudah melihat senyum ramah dari bibirnya menyambut kedatangan saya. Setelah berjabat tangan dan berbasa basi sebentar saya kemudian diajaknya untuk mendengarkan sebuah Haba ( cerita/ kabar ) tentang sebuah alat yang pernah menjadi kontroversi dalam masyarakat aceh masa itu.

Sahabat tentu tau yang namanya cambuk, bentuknya bagaimana dan bila dipecut ke tubuh sakitnya gimana. Walaupun tidak pernah ngerasain, tapi setidaknya kita bisa sedikit membayangkan akan rasa sakit yang disebabkan oleh si cambuk itu. Begitulah, Sementara pesanan kopi sudah hadir dimeja dan sahabat saya itu memulai haba nya dengan sebuah cerita.

Ketika kecil, Dokaha bandel betul. Sering berantam main keroyokan dengan teman-temannya. Pihak yang dirugikan melapor pada bundanya. Pulang ke rumah ia kena cambuk sang Bunda. Tapi ia tidak pernah kapok juga. Satu waktu ia cegat pedagang es lilin. Es direupah tiga potong tanpa bayar. Kawan-kawan si pedagang yang sama usia dengan Dokaha melapor kepada bundanya. Lagi-lagi ia kena seunut alias cambuk.

Di pengajian meunasah, tajwidnya sering salah. Ia malas belajar. Malas menghafal surat-surat pendek. Lalu sang teungku menyusurh dia berdiri di depan kawan-kawannya. Lagi-lagi ia kena cambuk.

Di Sekolah Dasar, pernah kena seunut (cambuk)  karena membogem temannya yang tidak mau kasih contekan.

Karena kapok kena cambuk melulu, ia pun rajin belajar. Ia tidak mau bergantung pada yang namanya barang contekan. Ia hafal mengaji kitab kuning, suka menolong kawan. Tidak disangka, cambuk ternyata bisa jadi obat mujarab menekan angka kriminalitas dan temperamental Dokaha. Ia menjadi kritis terhadap sesuatu tetapi tidak mau main tangan.

Suatu hari, setelah tamat Sekolah Menengah Umum (SMU) tahun 90-an, ia membaca koran lokal pada rubrik berita luar negeri di Singapura. Ada kejadian, seorang pemuda mencorat-coret mobil dengan cat semprot. Sang pemuda dikenakan hukuman 15 kali cambuk yang membuat tubuhnya lembam, merah dan berdarah. Singapura lebih dahulu memberlakukan hukuman cambuk. Tapi tidak satu negara pun protes.

Di Aceh, sejak hukum cambuk diberlakukan atas perlakuan maksiat, sudah sangat banyak pasangan yang asusila yang kena cambuk. Banyak penjudi, pemadat yang kena cambuk.

Reaksi yang kena cambuk pun beragam juga. Ada yang malu besar. Ada yang belum dikenakan hukuman, sudah pingsan duluan di Sabang. Tapi ada pula yang tanpa malu-malu menyerahkan tubuhnya, silakan pilih bagian mana yang mau dicambuk. Dan ia pun tampak kegelian sehingga meninggalkan kesan lucu bagi penonton yang memadati pelaksanaan hukum cambuk di meusijid (mesjid).

Hukum cambuk sudah jadi sebuah fenomena di Aceh. Menimbulkan aksi pro kontra di Aceh dan luar Aceh, bahkan luar negeri. Tapi hukum cambuk kini diterima baik masyarakat.

Ketangkap mesum lalu di mandikan sama air comberan

Mereka menangkap sendiri pelaku-pelaku maksiat, entah itu pemabuk, penjudi dan penzina. Kasus zina yang banyak tertangkap tangan juga beragam. Di dalam rumah dan rumah kos, di lapangan terbuka, dalam mobil yang bergoyang bak kena Badai Katarina. Dan masih banyak lagi.

Dokaha kali ini melihat satu arak-arakan pasangan zina di Desa Sukorejo, Kecamatan Langsa Timur Kota Langsa. Mereka diarak keliling kampung. Di dadanya terpampang pamflet bak demonstran. “Saya ada suami tapi berzina dengan orang lain,” bunyi tulisan di dada ibu muda. “Saya berzina dengan isteri orang,” bunyi pamflet di dada pemuda. Kedua yang bukan sejoli itu tertunduk malu.

pelanggar syariat itu di serahkan ke petugas

Dokaha termenung. Pasti pasangan mesum ini ujung-ujungnya akan kena cambuk. Tapi kenapa bila penegak hukum yang ketangkap tangan tidak kena cambuk? Kasus pejabat penegak hukum di Sabang cuma dimutasi dari Aceh. Sang cewek yang sempat stres dan pingsan malah sudah balik ke luar Aceh tanpa kena cambuk. Sungguh diskriminatif  perlakuan hukum di negeri ini. Kenapa penegak hukum pilih kasih?

Pelaksanaan cambuk di alun alun

proses cambuk untuk wanitanya

Dokaha pikir, ada cambuk lain yang perlu diberikan kepada masyarakat yaitu cambuk hati. Mungkin masyarakat pelaku maksiat sudah tidak punya hati. Bahkan pelakunya ada yang ketawa lucu saat dicambuk. Sungguh keterlaluan.

Sambil mendengar haba si Sahabat saya kembali meneguk kopi yang hampir dingin, sementara azan Isya sudah berkumandang dimeunasah.

Trims to Cang Panah atas ceritanya.

(Foto cuma ilustrasi belaka dan berasal dari bermacam sumber :) )

33 comments

  1. nah! Cambuk hati jauh lebih diperlukan, karena semua berasal dari sana, perbuatan baik dan buruk, perbuatan terpuji dan tercela, semua dari hati. Jadi hati yang perlu dipecut, tapi dimana bisa beli cambuk hati?😀

    1. dengar dengar bisa mbak, cuma harus kudu dilaksanakan dan jangan setengah2…

  2. Benar juga sih. Penegakan hukum tidak boleh pandang bulu. Jangan hanya masyarakat biasa saja yang dikenakan hukum cambuk. Aparat yang terbukti bersalah pun harus menerima hal yang sama. Hmmm…pasti sakit banget ya kalau bagian anggota tubuh terkena cambuk. Sedang aku saja waktu SD dipukul rotan, sakitnya luar biasa😦

    1. Pada dasarnya hukum cambuk di aceh gak sama sakitnya dengan yang dilakukan di malaysia dan singapura, hukum cambuk ini lebih bersifat untuk memalukan sipelanggar syariat itu karena dilakukan di alun alun atau di depan mesjid dan disaksikan masyarakat sekampung. Biar yang bersangkutan jera dan kapok untuk mengulanginya lagi.

  3. salaam….
    Hukum sekarang bukan untuk ditaati bang, yang ada adalah untuk dilanggar…

    Gimana rasanya dicambuk??? saya tidak pernah ngrasain bang,, dipukul pakai kayu aja belum…😀

    salaam

    1. Saleum bang mab,
      iya bang, walaupun sudah banyak yang dicambuk dengan berbagai kasus akan tetapi semakin banyak aja muncul wajah2 baru untuk kasus2 yang berikutnya. cuma saya agak sayangkan kesigapan aparatur yang terkait yang tidak offensive dan aktif dalam hal menindak, ada semacam “pilih” tangkap sehingga apa yg diharapkan oleh masyarakat agar Banda Aceh sedikit bersih dari maksiat jadi gak tercapai….
      saleum dmilano

  4. Salam Takzim
    jadi ingat masa kecil kalau bangun terlambat bangun, abah mencambuk saya dan itu rutin, sekarang saya jadi paham mengapa sholat subuh harus dilaksanakan sesegera mungkin, karena faedahnya sungguh sangat besar bang. bang cambuk disana mahal nggak kalau murah kirimin dong hehehe
    Makasih sudah berkunjung ke halaman saya
    Salam Takzim Batavusqu

    1. Saleum bang,
      Sepertinya cambuk gak ada jual bang, cambuk itu hanya tersedia di kantor Wilayatul Hisbah (WH). hehehe….
      Yang sering kita lihat sewaktu proses hukum cambuk di aceh mereka menggunakan rotan bang. bukan cambuk yang kayak di pilem2…
      saleum dmilano

  5. uw, cambuk…. Belum ernah ngersaain, tapi kayaknya periih banget

    1. sakitnya memang terasa, juga malu nya pun lebih terasa lagi…..🙂

  6. salam sob
    met liburan
    hukum cambuk masih ada rupanya

    1. saleum juga abu, klau diaceh masih ada,

  7. ada yang kegelian pas dicambuk??? hebaaaaaaaaaaaaat!!!😐

    1. orang mcam tu dah putus urat malunya bun,🙂

  8. wah bagus juga y ada hukum islam yang ditegakkan di aceh.. tapi kayanya harus dibarengi dengan dakwah juga deh karena orang biasanya g kapok dengan hukuman fisik..

    1. Kalau dakwah saya rasa gak ada mati nya kang, setiap sudut selalu ada dakwah, akan tetapi semua itu tidak banyak berguna kang, yg insyaf dah bnyak, dan yg terjerumus pun banyak, akhirnya sesuai dengan Qanun pemerintah aceh, hukum cambuk dihadirkan. mudah2an kemaksiatan bisa di minimalisirkan

      1. yah yang namanya manusia mas.. susah juga😀 apalagi mendakwahi para koruptor itu hehehe

        1. kadang kadang ada juga yg tukang ceramah tu yang koruptor kang, di media sudah banyak kita baca dan kita lihat pelakunya🙂

  9. Agung Rangga · · Reply

    seandainya hukum cambuk berlaku juga untuk para koruptor…😈

    1. itulah masalahnya, hukum cambuk itu belum merangkul semua kasus, saya merasa sedikit lucu dengan hukuman tersebut yang hanya berlaku untuk kasus zina, judi, dan minuman keras. semntara untuk kasus lain gak diberlakukan.
      beliau2 tuh yang bikin semuanya. nasib rakyat kecil yg selalu kena

  10. Aaaah, pengen banget hukum cambuk ini ada. Menurut saya ini solusi paling baik. Toh ini memang terbukti berhasil mengurangi angka kejahatan apa pun🙂

    1. jika ini semua merangku semua kasus, mungkin saja bisa mengurangi angka kejahatan, akan tetapi sudah tentu “mereka” tidk ingin hukuman cambuk ini legal diindonesia, karena mereka itu banyak kasusnya, xixixii….
      cukup diaceh saja dulu, sebagai percobaan….

  11. Seorang guru pernah bercerita katanya kalau di Aceh hukum norma berlaku sangat ketat sehingga penegak hukum tidak perlu bertindak karena norma mengikat sangat kuat, seharusnya memang norma mengikat masyarakat secara kuat tanpa, sehingga ada rasa malu jika melakukan kesalahan, tanpa memandang agama tentunya, bisa-bisa malah jadi perseteruan nanti. Salam kenal, izin follow ya ^^

    1. sayangnya seiring berjalannya waktu, prilaku generasi nya banyak yang salah jalan, hukum norma itu memang berlaku tapi itu dulu 15 tahun yang lalu. sekarang hukum cambuk yang berlaku setelah UU syariat Islam di sahkan oleh pusat. tentu kita bisa menerka kenapa hukum cambuk diberlakukan, karena tingkah polah masyarakat aceh pada umumnya sudah banyak yang menyimpang dari syariat islam, di nasehatin malah di dipukulin, akhirnya dibentuklah WH sebagai polisi nya syariat yang memberlakukan hukum cambuk di setiap pelanggaran agama. cuma yg saya sayangkan belum menyeluruh masuk ke setiap kasus, untuk sementara ini hanya berlaku pada kasus zina, judi, dan minuman keras saja, sementara korupsi tdk tersentuh sama sekali
      saleum

  12. Kok ada yang senyam senyum pas dicambuk ya?
    Apa perlu dirajam saja.. *emosi*

    1. Mungkin yang bersangkutan sudah putus urat malunya sob, dah dicambuk didepan masyarakat ramai, masih saja cengar cengir… *ikut2an emosi nih*

  13. BERKUNJUNG mas Dmilano🙂

    maaf baru sempat mampir🙂

    1. saleum mbak mila,
      trims dah mampir….🙂

  14. jarwadi · · Reply

    Saya bukan orang aceh, tetapi salut dengan hukum cambuk di aceh yang diberlakukan di tempat umum! Jadi ada efek malu dan jera!😀

    1. Oke lah kalau begitu,…..🙂
      mudah2an efektif lah untuk mengurangi angka kemaksiatan di aceh
      trims sudah berbagi…

  15. hukuman memang belum untuk semua orang….masih milih2 untuk dilaksanakan. beruntunglah yg bisa lolos dari hukuman dunia tapi jangan lupa…hukuman di akhirat jauh lebih pedihhhhhhhhhhhhhhh

    1. Betul bang necky, hukum akhirat takkan ada yang bisa dimanipulasi, semua akan dihukum sesuai dengan perbuatannya slma didunia.

  16. nofiatun · · Reply

    kenapa jadi tontonan yah..

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: