Ketika Tikus Berjanji

Semilir angin sepoi – sepoi bertiup, saya dan cang panah setengah terpejam menikmati elusan angin yang datang. Sedari tadi selepas sholat dhuhur kami berdua duduk – duduk di teras meunasah yang mulai sunyi. Burung murai sesekali terdengar bersiul dari balik pepohonan yang tumbuh di pekarangan meunasah ( Surau ) tua ini.

“ Yung, maukah kamu mendengar sebuah kisah tentang janji tikus..? Cang Panah bertanya pada saya. Dengan sedikit malas saya anggukkan kepala. Mata saya sudah berat soalnya.

” Cang, kalau mau cerita silahkan saja, saya akan mendengar.. ” saya menyahut. Kemudian saya menyandarkan kepala ke dinding meunasah.  

“ Baiklah, saya akan awali cerita ini semoga bermanfaat,” Ucap cang panah. Lalu dia mulai bercerita.

Ceritanya begini:

MATAHARI mulai menampakkan cahayanya. Sepeti biasa, untuk bisa melanjutkan hidup dan untuk menghidupi anak-anaknya, sang tikus keluar dari sarang meninggalkan anak-anaknya untuk mencari makanan.

Semua semak belukar dalam hutan ia telusuri hingga sampai di atas sebuah gundukan tanah. Ia menaikinya. Ia terus berusaha untuk mencari makan. Ia berpikir untuk anak-anaknya yang tinggal di sarang menunggunya pulang dengan membawa makanan. Hingga dia tiba di sebuah gundukan kecil yang ditumbuhi rumput-rumput halus berwarna kuning yang menurutnya adalah sebuah bukit kecil. Ia terus berjalan di atasnya.

Namun tiba-tiba gundukan yang ia kira sebuah bukit itu bergerak. Rupanya ia sedang berjalan di atas seekor singa jantan yang sedang tidur. Singa itu merasa terganggu karena sang tikus berjalan di atas tubuhnya, padahal sang singa sedang menikmati mimpi indah yang belum tuntas. Lalu sang singa dengan kemarahan yang sangat besar menerkam tikus tersebut dan digenggamnya dengan cengkraman.

Sang singa berkata, “Hei binatang kecil, kau telah menggangu tidurku. Kau telah merusak mimpiku yang indah. Kubunuh kau sekarang.” Si tikus mungil itu tiada berdaya ketika berhadapan dengan si raja hutan yang besar kekar. Dengan sangat ketakutan ia memohon belas kasihan pada sang singa.

“Tuan, mohon lepaskan saya. Saya minta maaf pada Tuan. Kasihanilah saya Tuan. Saya harus mencari nafkah untuk anak-anak saya yang masih kecil. Jika tuan membunuh saya siapa yang akan merawat mereka tuan? Kasihanilah saya tuan,” ujar tikus.

Sekeras-kerasnya batu, pasti akan hancur juga jika kena tetesan air lama-lama Begitu juga dengan sang singa yang dalam keadaan marah besar akhirnya luluh juga hatinya. Ia merasa iba kepada tikus. Akhirnya sang singa memaafkan tikus lalu ia melepas tikus dari genggaman cengkramannya.

Sang tikus pun bebas. Nyawanya terselamatkan. Dengan penuh rasa syukur tikus dapat kembali mencari makan untuk anak-anaknya. “Terima kasih tuan. Anda telah berbaik hati kepada saya. Tuan telah memaafkan saya hingga saya dapat mencari nafkah lagi. Saya berjanji pada tuan, suatu saat saya pasti akan menolong tuan,” kata tikus. Kemudian tikus pergi melanjutkan pekerjaannya.

Namun sang singa dengan keangkuhannya meremehkan perkataan tikus yang mengatakan suatu hari tikus itu akan menolongnya. Dia tertawa terbahak-bahak karena ia merasa bahwa ia  binatang yang kuat dan gagah perkasa, mana mungkin binatang yang kecil mungil seperti tikus dapat memberi bantuan kepada singa si raja hutan yang tak dapat dikalahkan oleh siapapun. Begitu pikir singa.

Suatu kali kemudian, saat tikus sedang mencari makan, tiba-tiba ia mendengar auman sang singa yang berteriak minta tolong. Segera ia bergegas mencari dari mana sumber suara tersebut. Lalu tikus menemukannya. Ternyata sang singa sedang terkurung dalam perangkap tali para pemburu. Tikus pergi ke tempat terperangkapnya sang singa. Lalu ia katakan pada singa, “Tuan tenang saja, saya akan menolong tuan.”

Lalu tikus menggigit tali perangkap tersebut dengan giginya hingga putus. Akhirnya sang singa bebas karena tali perangkapnya sudah putus akibat digigit tikus. Sang singa tidak habis pikir, binatang kecil yang sebelumnya ia sangka tidak akan pernah bisa menolongnya malah telah membuktikan janjinya. Kemudian tikus berkata kepada singa: “Jangan remehkan apa yang lebih kecil darimu, karena segala sesuatu itu ada kelebihannya.”

Begitulah kisah singkat yang telah diceritakan Cang Panah pada saya siang ini.

” Bagaimana yung? Apa kamu sudah bisa mengambil hikmahnya?“ tanya Cang Panah pada saya, sambil manggut – manggut saya berkata: ” Sudah Cang, tapi saya belum tau, apakah yang baca tulisan ini juga sudah mendapatkan hikmah dari cerita ini“.

Cang Panah tertawa, saya pun tersenyum. Ahhh….. Angin masih terasa nikmat dikala suhu bumi sedang membara begini.

Jangan remehkan apa yang lebih kecil darimu, karena segala sesuatu itu ada kelebihannya.

Saleum

14 comments

  1. kirian mo cerita tentang kebusukan tikus berdasi😀
    saya dah pernah baca ini di majalah anak-anak duluuuu banget!😳

    1. gak papa bun, seperti kata pepatah ” Lancar kaji karena diulang,”
      semakin sering dibaca kan makin maknyuss kena ke hati kan mbak…🙂

  2. ada kurang, di balik baju kekurangan pastilah ada kelebihan ya mas..🙂

    1. betul banget,🙂

  3. Wah ceritanya udah sering diutarakan tapi maknanya emang gg lekang oleh waktu, saya suka ” …. karena segala sesuatu itu ada kelebihannya”

    1. Betul banget mbak, asala mbak tau saja, saya baca kisah yang baginian udah lebih dari 15X, tapi seperti kata pepatah ” LAncar kaji karena di ulang” semoga ada yang baik kita dapatkan dari cerita ini.🙂
      saleum

  4. saya pikir tadi mau cerita koruptor bang… hehehe

    oo ternyata itu yah,,, yah di atas langit masih ada langit,, jadi ga pantes buat kita untuk berbuat sombong, bukan begitu bang…

    salaam

    1. Yup, setuju bang,😀
      sombong itu gak baik juga untuk pertumbuhan bang, hehehe

  5. Agung Rangga · · Reply

    wah, dongeng saya waktu kecil…
    dan benar, jangan anggap remeh orang-orang yang lebih kecil/rendah bagi kita…😀

    1. yang kecil itu kadang lebih pedes bang🙂
      saleum

  6. Tikus ternyata juga bisa menjadi pahlawan besar ya..
    Tapi bukan tikus berdasi kan yak?😛

    1. Si singa baru nyadar dia sob, hehehe…
      namun kalau tikus berdasi ntu, jangan diikut sertakan deh, mereka itu sampah masyarakat sebenarnya🙂

  7. Salam Takzim
    wah kisah yang indah, seharusnya yang kaya gini diikuti dalam lomba bang, pasti menang. Sukses ya bang
    Salam Takzim Batavusqu

    1. Ah masa sih bang, insya Allah besok2 saya ikutan lomba.🙂

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: