Harus [ Nama ] Gaul..?

Cek Mad menatap saya sepintas ketika sedang berada disebuah warung kopi di seputaran Simpang Dodik Lamteumen. Waktu itu dia sedang membersihkan motornya disebuah dorsmeer yang letaknya persis disamping warkop. Ketika itu saya mendengar sebuah obrolan singkat antara Cek Mad dengan karyawan dorsmeer.

“ Jimi, ntar jangan lupa motor saya di beri pengilat ya…” Ujar Cek Mad pada karyawan dorsmeer itu. Sepertinya Cek Mad sudah pelanggan tetap. Saya cuma tersenyum mendengar nama panggilan anak ABG itu karena yang saya tau nama aslinya Azmi, seorang lulusan SMA yang sedang berjuang hidup dikota. Saya lalu melihat Azmi mengacungkan jempolnya ke arah Cek Mad sambil menjawab “ Oke Cek, don’t worry pokoknya…”

Saya lagi – lagi mengulum senyum mendengar itu semua. Kemudian saya melambaikan tangan pada cek mad, menyuruh dia supaya segera ke meja saya. Tak lama cek mad sudah duduk manis dibangku tepat didepan saya duduk.

“ Keren sekali nama si azmi ya cek…” saya berkata memulai pembicaraan. Cek mad tertawa pelan menanggapi ucapan saya.

“ Jika sudah sampai ke kota begitulah yang sering kita dengar yung, padahal nama pemberian ayah bunda nya sangat bagus, konon nama itu diciptakan dengan mengadakan syukuran…”. Jawab Cek Mad. Saya manggut – manggut. Sambil menanti kopi yang kami pesan Cek mad kembali berucap.

“ Saya ada cerita yang saya dengar dari si Cang Panah, bagaimana kalau kamu sejenak mendengarkannya…”

“Boleh saja Cek, mumpung kopi kita belum sampai…” jawab saya.

“Begini ceritanya yung…..” Cek mad lalu memulai ceritanya.

SUDAH setahun Jailani dan kawannya menikmati hidup di Banda Aceh. Sedikit-banyaknya mereka telah tahu pergaulan hidup anak kota. Kini mereka punya nama gaul. Jailani bin Yusuf dipanggil Je, karena ia agak mirip bule. Jauhari bin Saleh (Ari) sering dipanggil Ari Gatok, karena ia agak mirip orang Jepang. Ibrahim bin Daud (Brahim) sering dipanggil Bram atau Bram Sing, kecuali kawan kosnya yang masih menyapa Him. Ibrahim mirip orang India. Sedang Ikhsan bin Aiyub (Isan) sering dipanggil Iis Aiyubi. Ikhsan agak mirip orang Arab.

Mereka senang sekali ketika disapa dengan nama baru itu. “Ah, lebay,” ketus Siti saat mengetahui nama baru mereka. Siti adalah teman seruang kuliah mereka. Siti juga mahasiswi paling sering diburu lelaki, termasuk Jailani. Tapi hubungan mereka hanya bertahan seperempat tahun. Cinta mereka putus hanya gara-gara Jailani tak membawa oleh-oleh asli dari Pekanbaru bulan lalu. Siti merasa ditipu Jailani. Kini Siti sudah digandeng cowok lain. Sedang Jailani menjomblo lagi. Siti; hidung mancung, kulit putih, alis tebal, mulut kecil, mata bulat, dan lengan-kakinya berbulu lebat. Karena itulah, dari nama aslinya Nurhayati binti Abdullah, menjadi Siti, atau juga kerap disapa Aya. Kemarin, seorang dosen mereka juga telah punya sapaan gaul. Dosen muda itu merupakan wartawan sebuah media lokal, juga seniman. Mengajar mata kuliah Pengantar Jurnalistik. Namanya Sulaiman Yusuf. Kalau mahasiswanya memanggilnya Pak Leman. Begitu juga rekan-rekan sang dosen. Tapi sejak kemarin, di ruang kuliah, sang dosen meminta pada mahasiswa untuk mulai memanggilnya, “Sule”. Bukan berniat meniru pelawak nasional. Tapi biar keren dan beken. Pak Sule berambut gondrong, hidung mancung patah. Bibirnya merah. Jailani dan kawan-kawan benci pada Pak Sule saat mengajar. Kalau mahasiswi yang bertanya, menjawab dengan manja. Kalau mahasiswa yang bertanya, jawabnya mutar-mutar dulu, setelah itu baru ke sasaran. Kalau ada diskusi, lebih sering mengizinkan mahasiswi berikan pendapat. Namun satu hal yang paling disuka mahasiswanya. Kalau saja ada karya tulis mahasiswa yang dimuat media massa, maka akan ada jaminan mendapat nilai B. Tak perlu sering masuk kuliah. Tentu Jailani sangat termotivasi untuk menulis.

Penyebutan nama gaul menjamur dalam sekejap. Apalagi mahasiswa Teknik. Seperti kawan Jailani. Dari namanya Mahmud Idris, diubah jadi Uud. Kadang Jailani mengejeknya ketika sesekali diajaknya ngopi. Ia akan berkata, “Undang-undang Dasar sudah datang. Haha…!” Dan, masih banyak mahasiswa-mahasiswi di Aceh yang punya nama gaul.

“Kenapa ini bisa terjadi?” Tanya Jailani pada kawannya, suatu malam di kos Darussalam. “Je, menurutmu kenapa?” Sambar Iis Aiyubi. “Mungkin pemuda Aceh tak suka lagi budaya sendiri. Sudah lebih suka budaya asing.” Sambil mengipas diri dengan kaos oblong, “kurasa hanya pemuda yang hidup di kota saja,” Bram Sing berpendapat. “Tidak. Kalian sering-seringlah menguping pemuda kampung yang sedang menelfon pacarnya. Pasti ia akan berbohong pada si pacar, terutama namanya. Kalau misal namanya Zakaria, maka ia akan berkata dengan nada kecil untuk melembutkan suaranya, ‘Panggil aja Bang Jek’. Gak percaya? Coba simak ketika kalian pulang kampung,” ceramah Ari. Mereka saling tatap. Tertawa. Lalu terlelap.

“Begitu juga dengan nama-nama toko dan dan lembaga, terkesan lebay dalam memberi nama,” ujar Jailani di lain kali. Orang Aceh mulai suka ke-barat-barat-an. Ke-Inggris-inggrisan. “Misal Yellow Cafe. Helsinki cafe. Atlanta Cafe. The Aceh Institute. The Pade Hotel. Apalagi?” Tanya Jailani.

“Ya, benar. Seperti ini lagi, Atjeh United. Hermes Palace Hotel. Dan lain-lain.” Sungguh lama-lama unsur keacehan akan terkikis. Kalau misalnya diberi nama, “Warong Jasa Poma, Laskar Aneuk Nanggroe, Komunitas Kanot Bu, itu kan tidak gaul. Kolot,” sebut Ari dengan raut kecewa. “Seharusnya kita bangga pada budaya sendiri. Orang Barat tetap akan berteman dengan kita meski kita kampungan, dengan syarat, kita cerdas. Contohlah masa Kesultanan Iskandar Muda. Beliau berteman dengan orang Barat, tapi beliau dan rakyatnya tak pernah memunculkan unsur ke-barat-barat-an,” terang Brahim.

“Lalu, kita harus mencopot nama gaul kita? Kembali ke semula?” Tanya Isan.

“Ya, barangkali,” sahut Jailani.

“ Begitulah yung, sudahkah kamu mengerti maksud cerita saya…??” tanya Cek Mad sekalian mengakhiri ceritanya. Saya tertawa karena nama – nama gaul itu benar adanya dan sering saya dengar.

“ Kalau saya sudah mengerti cek, karena nama itu adalah tanda cinta dari orang tua kita dan sudah sepatutnya kita tidak merubah sesuka hati demi sebuah kepopuleran. Setahu saya nama itu adalah doa cek mad, sepatutnya juga kita tidak menjadikannya sebagai topeng dalam bergaul…”. Jawab saya. Giliran Cek Mad manggut- manggut sambil meminum kopinya. “ Lalu kenapa kamu memakai nama dmilano padahal nama aslimu sudah bagus….” Tanya Cek Mad. Saya tertawa lepas. “ Itu nama gaul saya cek…” jawab saya. Cek Mad mengacungkan dua jempol pada saya. Maksudnya apa ya…??

saleum🙂

29 comments

  1. Namanya aja anak gaul, nama pun tampaknya harus gaul.😆

    1. hehehe… banyak orang tua si anak yang ngamuk2 waktu dengar anaknya dikota sudah ganti nama😆
      saleum

  2. hhahahhahahaha … I always love the ending ^^ . wah padahal nama-namanya bagus ya dan nama-nama toko dalam bahasa Aceh pun unik karena sekarang yang kebarat-baratan udah menjamur gitu😀

    1. Iya mbak, teman saya yang dari medan pernah nyelutuk, woww… nama orang aceh keren2 yah… ? xixixiiii… padahal nama asli nya lebih keren lagi.
      saleum

  3. uniq…

    1. asik😀

  4. Cerita Sambil ngopi enak itu..hehe

    1. mantap sangat🙂

  5. hahahah,,, saya juga tertawa saat teman abang bertanya kenapa abang jdi dmilano… hahahah

    pokoknya sekarang harus lebih berhati2 lagi ya bang dalam bergaul..

    salaam

    1. trims ya bang atas anjurannya, saya senantiasa berhati hati… insya Allah🙂

  6. hahahaha… selama gaulnya positif sih ga masalah kali ya?!
    dan yang penting gaulnya bukan 94uL g3T0whhh!

    *puyeng bacanya

    1. biasanya obat puyeng bawa istirahat dulu bun,🙂
      masih gaul gaulan gini aja kok bun, belum dampe ke taraf mengkuatirkan
      saleum

  7. Nama saya Retno Damayanthi, nama gaul saya ENNO hehehe…

    1. saya malah dikasih nama dmilano,😀

  8. Itulah dunia gaul … namanya juga gaul – iya kan *dmilano? … (sttt … nama gaul tak?) …😛

    1. yo’i lah Om, nama gaul pemberian teman, hehehee….

  9. Asyik tuh ngopi sambil ngrobrol, banyak cerita dan juga inspirasi yang di dapet.🙂
    salam persahabatan.

  10. kalau hanya sekedar nama gaul, mungkin gak masalah, yg masalah kalau tulisan yg dibikin gaul, Milano😦
    bunda puyeg kalau lihat tulisan gaul yg bercampur angka dan huruf …hedeh…hedeh …
    salam

    1. iya bun, saya sering banget dapat sms bahasa alay gitu, berkunang – kunang mata saya bun,…🙂

  11. Hehehe… biar kelihatan gaul nama pun diubah. Saya mah mensyukuri nama pemberian orang tua. Buat apa diganti lagi.
    Yang kasihan adik saya, namanya Mayrivda tapi panggilannya Bella. padahal dia cowok. hehehehe

    1. wkkk…. kok bisa gitu mbak ya…???

  12. Nah, nama gaul saya “Orin” bang hihihihi

    1. yup… saya dmilano mbak, xixixiii…..

  13. satu hal saja:
    kisah ini menjadikanku rindu pada kopi aceh
    jadi ingat masa-masa sulit di medan
    beeeeehhh… enaknya kopi aceh…

    sedj

    1. dulu sulit,.. sekarang tentu dah senang ya bang sedj…???🙂

  14. hahaha, koq gk dijawab pas nanya knp dikasi dmilano? tapi pas saya kul di USU dulu bg, temen2 yg dari Aceh gada tu yg dirubah nama aslinya?

    1. Kan udah dijawab, makanya dapat dua jempol dari cek mad😀
      syukurlah kalau masih doyan dengan nama asli kawan2 nya mbak….
      narasi ini cuma untuk mengingatkan saja akan arti sebuah nama pemberian ortu
      saleum

  15. siti · · Reply

    hy

    1. hy juga mbak siti🙂

Bagaimana menurut anda... :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: